Menurut Erwin kerugian tersebut karena investor tol tidak mendapat kepastian mengenai jumlah kendaraan yang akan melewati tol mereka.
"Menurut saya bisnis tol itu yang pertama harus dikerjakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga yang terkait dengan pemerintah, karena terus terang kalau lalu lintasnya tidak ada kepastian, itu bisnis tol rugi. Yang kita alami 3 tahun itu rugi, karena lalu lintasnya tidak langsung naik, bertahap," kata Erwin disela-sela seminar "Inovasi untuk Pemberdayaan Usaha di Daerah" di Menara Kadin, Jalan Kuningan, Jakarta, Selasa (5/3/2013).
Erwin mengungkapkan secara perlahan perusahaan mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut. Untuk mendapatkan pendapatan yang lebih, bisnis tol dapat ditunjang dengan bisnis yang lain di sekitar tol tersebut.
"Keuntungan kedua dari bisnis tol itu lahan, kalau disekitar jalan tol itu punya lahan besar, kemudian dikembangkan jadi properti itu menarik. Tapi kalau di kota ini susah," papar Erwin.
Itu pun menjadi tolak ukur dirinya dan untuk investor lain jika ingin terjun ke bisnis jalan tol. "Menurut saya prospek tol ke depan harus digabungkan dengan properti," pungkasnya.
Seperti diketahui Erwin berinvestasi di sektor infrastruktur tol untuk ruas Jakarta Outer Ring Road W 1, Kebon Jeruk-Penjaringan dan tol di Makassar.
(zul/hen)