Ada Impor BBM, Garam, dan Daging Bikin Defisit Perdagangan RI Tak Bermutu

Jakarta -Defisit neraca perdagangan Indonesia terjadi dalam beberapa bulan terakhir terutama dari sektor impor migas. Namun selain migas, impor pangan yang seharusnya tak perlu juga mengambil peran sehingga defisit neraca perdagangan tak berkualitas.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Darmin Nasution kepada di sela-sela acara persiapan Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-9, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (12/11/2013)


Ia beralasan defisit perdagangan yang tak berkualitas karena barang-barang yang diimpor antaralain Bahan Bakar Minyak (BBM) dan produk pangan seperti garam dan daging sapi. Apalagi BBM yang diimpor untuk subsidi dan lebih banyak untuk kegiatan konsumtif kendaraan pribadi. Selain itu pangan yang diimpor seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri.


"Defisit kemudian menjadi tidak berkualitas, kalau sumbernya mulai datang dari BBM, garam, bawang, daging," ungkap Darmin yang mantan gubernur BI ini.


Menurutnya apabila defisit perdagangan karena barang modal untuk tujuan produktif dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, maka hal itu masih bisa diterima karena berkualitas.


"Dianggap kualitasnya oke kalau impor bahan bakau dan barang modal. Karena dalam rangka meningkatkan kapasitas ekonomi," paparnya.


Menurutnya pemerintah tidak dapat mengelola persoalan pangan itu secara matang. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan dan peningkatan pendapatan terus akan naik sehingga harusnya sudah menjadi perhitungan.


"Kita tidak mengerjakan pekerjaan rumah, kita tahu kalau ekonomi penghasilan orang itu naik. Kebutuhan akan naik, pangan, pakaian. Kalau pangan makin lama banyak yang defisit itu artinya kita tidak mampu me-manage-nya sehingga hasil pangan itu mampu naik mengkuti penghasilan dan kebutuhan," katanya.


(mkl/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!