"Berat, semua airlines juga sama," kata Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar saat ditemui di Gedung BNI, Jakarta, Senin (16/12/2013).
Emir menjelaskan, dolar yang semakin menguat membuat beban perusahaan ikut meningkat karena sebagian besar biaya maskapai penerbangan. Garuda sendiri dalam operasionalnya banyak menggunakan mata uang dolar.
"Airlines bukan Garuda saja hampir 60% ini adalah biayanya dalam US dolar. Sedangkan yang sangat berdampak adalah airlines yang mempunyai rute-rute luar negeri. Karena rupiah itu depresiasi dilihat dari year on year sudah hampir 14%," cetusnya.
Mengutip data Reuters, Senin (16/12/2013), dolar AS diperdagangkan di level Rp 12.100 tepat pada pukul 08.30 WIB sebelum kembali ke level Rp 12.095 pada pukul 09.00 WIB. Sementar di sore hari jelang penutupan bursa, dolar AS menyentuh level tertingginya di Rp 12.115.
Dolar di level Rp 12.100 ini terjadi saat bulan Maret 2009 lalu. Penguatan dolar ini disebabkan membaiknya perekonomian AS dan beriringan dengan rencan penarikan stimulus (tappering off) oleh Bank Sentral AS, The Fed. Dolar juga menunjukkan keperkasaannya terhadap Rupee (India), Peso (Filipina) dan Yuan (China).
(drk/dru)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!