Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi meminta agar BI cepat melakukan intervensi agar nilai tukar rupiah tidak terus melemah. Hal ini karena Indonesia masih ketergantungan impor cukup besar terutama untuk bahan baku penolong dan barang modal.
"Namun tidak berarti pelemahan nilai tukar rupiah kita biarkan begitu saja. BI bisa mengambil langkah yang tepat untuk lakukan intervensi agar jangan sampai rupiah terus melemah. Kurs yang melemah tidak selalu baik karena kita masih menjadi nett imported seperti struktur impor kita yang tinggi 93% untuk bahan baku penolong dan barang modal," kata Bayu di Konferensi tingkat Menteri (KTM) World trade Organization (WTO) ke-IX di Bali Nusa Dua Convention Center, Selasa (3/12/2013).
Selama Januari-Oktober 2013, struktur impor memang didominasi oleh impor bahan baku/penolong yang mencapai 76,1% dan barang modal sebesar 16,9%. Impor barang konsumsi dan barang modal mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,8% (YoY) dan 17,1% atau menjadi sebesar US$ 10,8 miliar dan US$ 26,4 miliar. Sedangkan impor bahan baku/penolong mengalami kenaikan 2,2% menjadi sebesar US$ 118,8 miliar.
Sedangkan Kenaikan impor migas selama Januari-Oktober 2013 disebabkan oleh meningkatnya permintaan minyak mentah yang meningkat sebesar 26,4%. Sementara itu, impor nonmigas yang mengalami penurunan signifikan, antara lain kapal terbang dan bagiannya dengan penurunan sebesar US$ 2,2 miliar, kendaraan & bagiannya, mesin/pesawat mekanik, pupuk, kendaraan bermotor yang mengalami penurunan antara US$ 656,4 juta sampai US$ 1,6 miliar.
"Jadi yang diimpor kan harganya jauh lebih mahal itu yang menekan biaya produksi. Oleh karena itu sistem produksi harus melakukan penyesuaian imbasnya kenaikan harga di tingkat konsumen dalam negeri. Kita juga memahami pelemahan kurs sebagai sebuah konsekuensi yang logis dari ekonomi global yang sekarang sedang terjadi," imbuh Bayu.
Walaupun begitu, Bayu menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah berdampak positif bagi para eksportir. Hal ini karena mereka dapat meraup rupiah lebih banyak.Next
(wij/dnl)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!