Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi menjelaskan, bea masuk teh tertinggi di negara produsen teh dunia adaalah di Turki dengan persentase 105%. Sedangkan bea masuk teh di Indonesia hanya 5%.
"Bea masuk teh kita adalah yang paling rendah hanya 5%. China 15-30%, Srilanka 30%, Vietnam 50%, Rusia 20%, Irak 15%, bahkan Turki 105%. Sehingga Indonesia yang juga merupakan importir teh, tetapi yang diimpor adalah impor teh dengan kualitas rendah," ungkap Bachrul di sebuah diskusi soal teh di Auditorium Utama Kementerian Perdagangan Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (15/01/2014).
Menurut Bachrul, importasi teh Indonesia selama 5 tahun terakhir naik sebesar 32,5%. Impor teh biasanya didatangkan dari Vietnam, Srilanka, dan Kenya yang kualitas produknya cukup rendah.
Sebaliknya, kinerja ekspor teh Indonesia mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir. Diperkirakan ekspor teh Indonesia turun hampir 1% selama 5 tahun terakhir. Di tahun 2008, ekspor teh mencapai US$ 158 juta turun menjadi US$ 156,7 juta di tahun 2012. Sedangkan di Oktober 2013 sudah mencapai US$ 132,7 juta. Padahal harga per kg teh Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam, Srilanka, dan Kenya.
Meningkatkan arus importasi teh ketimbang ekspornya menyebabkan kerugian yang dialami para petani teh. "Akibatnya petani tidak bergairah untuk menanam. Kenaikan harga tenaga kerja, pupuk dan obat harga teh menjadi tidak menguntungkan. Sebagai catatan saja harga ekspor teh Vietnam adalah US$ 1,4/kg, Indonesia US$ 1,8/kg," imbuhnya.
Akibatnya, lahan pertanian teh di Indonesia juga menurun signifikan selama 5 tahun terakhir. Para petani lebih memilih menanam produk hortikultura yang lebih menguntungkan ketimbang menanam teh.
"Dilihat dari jumlah lahan turun selama 5 tahun terakhir dari 153 ribu hektar menjadi 130 hektar di tahun 2012 sedangkan kualitas teh nasional juga cukup rendah. Lahan teh selama ini banyak yang telah beralih fungsi menjadi tanaman hortikultura akan padahal harga jual ekspor teh Indonesia tinggi," jelasnya.
(wij/dnl)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!