Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Noegardjito mengatakan, investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun pabrik mobil adalah sekitar US$ 400-700 juta atau setara Rp 4-7 triliun.
"Kalau mau buat pabrik, itu sederhana US$ 400-700 itu sudah beres. Yang mahal itu bukan investasinya," katanya di sela-sela seminar soal Industri membahas Industri Otomotif RI Menghadapi ASEAN Economic Community 2015 di Kantor Kementerian Perindustrian, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (28/6/2014).
Ia mengatakan, investasi tersebut cukup untuk memenuhi kapasitas produksi sebesar 100.000 unit per tahun.
Noegardjito mengatakan, yang paling berat adalah mengembangkan after sales network atau jaringan layanan purna jual dari merek mobil tersebut.
Setidaknya, untuk 1 authorized aftersales network yang mencakup bengkel perawatan, sparepart, dan showroom penjualan, harus disediakan dana lebih dari Rp 55 miliar.
"Yang mahal bukan invesatasinya, tapi mengembangkan network after sales itu yang super mahal, kalau mau buat itu sekitar Rp 55 miliar. Itu tergantung harga tanahnya juga," katanya.
Ia berpesan, selain dari segi finansial tersebut, produk baru agar bisa bersaing dengan produk-produk yang sudah ada sekarang, harus mengutamakan kandungan lokal yang besar.
"Pertama kalau merek baru nih, supaya bisa bersaing dengan merek yang sudah ada harus local content tinggi, kalau nggak, nggak bisa bersaing," tuturnya.
(zul/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!