Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebutkan permintaan tersebut adalah terkait asumsi makro ekonomi dan penerimaan pajak. Jokowi meminta angka yang ditetapkan harus realistis.
"Kami diminta agar asumsi lebih realistis. Pertama pertumbuhan ekonomi, kedua harga minyak, ketiga rupiah, dan keempat lifting," ungkap Bambang di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (19/1/2015).
Berikut adalah asumsi makro yang diusulkan pemerintah:
- Pertumbuhan ekonomi 5,8%.
- Inflasi 5%.
- Suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 6,2%.
- Nilai tukar Rp 12.200/US$.
- Harga minyak Indonesia (ICP) US$ 70/barel.
- Produksi siap jual (lifting) minyak 849.000 barel/hari.
- Lifting gas 1,17 juta barel setara minyak/hari.
Untuk harga minyak dan lifting migas, Bambang mengaku akan membahas lebih intensif bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said. "Kami akan memastikan pada harga yang lebih realistis," sebutnya.
Pentingnya penetapan angka realistis, kata Bambang, adalah untuk keberlangsungan program yang akan dijalankan oleh pemerintah. Karena 4 faktor yang disebutkan berpengaruh besar terhadap belanja maupun penerimaan negara.
"Kalau tidak realistis, ini ditakutkan bisa mengganggu program dari pemerintah," tegas Bambang.Next
(mkl/hds)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com