Pada 1 Februari, pemerintah menetapkan harga untuk bensin Premium Rp 6.600/liter untuk wilayah di luar Jawa, Madura, dan Bali. Kemudian Solar dibanderol Rp 6.400/liter.
Namun berdasarkan rapat di Komisi VII DPR beberapa waktu lalu, dikaji saat ini harga keekonomian Solar berada di posisi Rp 6.200/liter. Sehingga bila dihitung secara kasar, pemerintah untuk saat ini untung Rp 200/liter dari penjualan Solar.
"Memang ini untuk kali pertama pemerintah untung jual BBM. Karena sebelumnya BBM disubsidi," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmadja dalam pesan singkatnya, Selasa (10/2/2015).
Wiratmadja mengatakan, saat ini pemerintah sedang menyiapkan mekanisme keuntungan penjualan BBM tersebut untuk ditabung. Hasilnya akan dipakai untuk membangun infrastruktur energi.
"Keuntungannya akan digunakan untuk membangun infrastruktur. Memperkuat ketahanan energi nasional," sebutnya.
Sebelumnya, Direktur Pembinaan Hilir Migas Kementerian ESDM M. Riswi mengatakan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan mengaudit badan usaha yang menyalurkan BBM subsidi termasuk BBM penugasan, untuk mengetahui berapa besar keuntungan penjualan BBM.
"Nanti akan diaudit, jadi penyaluran BBM termasuk BBM subsidi oleh badan usaha atau Pertamina diaudit BPK. Akan terlihat berapa total keuntungan penjualan BBM, baik per bulan atau total dalam setahun," papar Riswi.
Perlu diketahui juga, saat ini ketahanan energi Indonesia masih rentan. Pasalnya, Indonesia tidak punya sama sekali cadangan BBM, sementara dengan negara lain memiliki cadangan BBM cukup 3-6 bulan lamanya.
Berdasarkan data Pertamina, 60-70% kebutuhan BBM di Indonesia per harinya dipasok dari impor. Melihat kondisi tersebut, pemerintah ingin memperkuat ketahanan energi nasional.
(rrd/hds)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com