"Kalau melihat harga minyak sudah mulai naik, nanti di RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) pada April, kita akan review semua. Kita lihat harga minyak di kuartal I-IV seperti apa, kita optimistis tahun ini profit (untung)," ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto kepada detikFinance, di kantor PT Perta Arun Gas, Lhokseumawe, Selasa (10/3/2015).
Dwi beralasan, kerugian Pertamina Januari sebesar US$ 35 juta tersebut, karena Pertamina harus menjual harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dengan harga yang cukup murah. Seperti diketahui, Januari-Februari pemerintah memutuskan menurunkan harga BBM subsidi, akibat anjloknya harga minyak pada awal tahun.
"Tapi kan kita beli minyak pada bulan-bulan sebelumnya, dan saat itu harganya masih tinggi dan kita juga stok berbulan-bulan, tapi Januari-Februari kita terpaksa jual murah, itu yang membuat kita rugi," katanya.
Saat ini, Dwi sudah membuat berbagai tim khusus, dengan tujuan melakukan berbagai antisipasi kerugian lebih banyak, tapi juga tim khusus diharapkan dapat melakukan terobosan kinerja untuk menciptakan keuntungan.
"Saya banyak buat tim di Pertamina, ada tim losses, tim manajemen organisasi, tim khusus hulu migas. Tim-tim ini untuk mencegah kerugian dan membuat terobosan agar bisa mencetak keuntungan," tutupnya.
(rrd/dnl)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com