Pertamina: Pemasangan RFID Masih Terkendala Dana

Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengaku masih mengalami banyak kendala untuk segera menerapkan sistem Radio Frequency Identification (RFID) pada kendaraan salah satunya soal pendanaan.

Senior Vice President Retail and Marketing Pertamina Suhartoko mengatakan, sebagian besar peralatan untuk penerapan sistem RFID masih berasal dari impor sehingga berpengaruh terhadap kondisi perekonomian global.


"Peralatan masih impor sehingga mempengarui nilai proyek karena menggunakan basis suku bunga, karena ini kan bukan hanya dari PT INTI saja. Jadi ketika suku bunga naik sehingga nilai proyek ikut naik," kata Suhartoko di Gedung Pertamina, Jakarta, Rabu (23/10/2013).


Sementara itu, Project Manager RFID Jefri Wahyudi menyebutkan, pihaknya mmebutuhkan dana sedikitnya Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun untuk pengembangan penerapan RFID. Terkait hal itu, pihaknya tengah mencari pendanaan dari pihak perbankan.


"Ada sekitar 100 juta kendaraan dan 500 SPBU, nilainya bisa Rp 3-4 triliun, saya mengharapkan ada kredit perbankan, kemarin sebenarnya pinjaman perbankan akan finis tapi ada masalah global ada kenaikan kurs sehingga nilai proyek terus naik," kata dia.


Namuun, pihaknya optimis jika pada Juli 2014 nanti penerapan RFID akan terpasang secara menyeluruh.


"Pemasangan secara bertahap September-Oktober. Sudah terpasang yang di Jakarta tinggal dihidupkan kalau sistem sudah semua. Sekarang mau menggarap di Jawa Barat dan Jawa Timur. Posisi masih diuji coba," ujar dia.


(drk/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!