Ini Penyebab 2013 Berat

Jakarta -Tahun 2013 tidak lama lagi akan segera kita lalui. Bisa dibilang tahun ini bukanlah periode yang mudah bagi para pelaku ekonomi. Tidak sedikit hal-hal yang membuat jantung pelaku ekonomi kebat-kebit.

Pada awal 2013, ibukota Jakarta terendam banjir. Bencana ini menimbulkan 20 korban jiwa dan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.


"Kerugian akibat banjir tidak sedikit. Kalau dihitung-hitung, total kerugian banjir pada tahun ini kira-kira mencapai Rp 20 triliun," kata Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta pada awal tahun ini.


Kemudian pada Maret ada sentimen negatif di pasar keuangan yang berasal dari luar negeri. Lagi-lagi Eropa yang bikin masalah, kali ini Siprus. Walau mungkin saja bukan negara yang memegang peranan penting, tetapi masalah di Siprus cukup bisa membuat pasar gunjang-ganjing.


Seperti halnya Yunani dan sejumlah negara Eropa lain, Siprus pun sempat mengalami ancaman gagal bayar obligasi. Siprus akhirnya mendapat talangan sebesar 10 miliar euro dari Bank Sentral Uni Eropa (ECB) dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk melunasi utang-utang yang akan segera jatuh tempo.


Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, pemerintah Siprus diharuskan mengenakan pajak sebesar 25 persen atas deposito bernilai di atas 100 ribu euro. Kemudian, Siprus juga harus menutup Bank Laiki (bank terbesar kedua di negara tersebut) dan membekukan sementara deposito bernilai di atas 100 ribu euro yang memang tidak dijamin oleh pemerintah.


Masih di Maret, Agus Martowardojo terpilih sebagai gubernur Bank Indonesia (BI) setelah melalui uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI DPR. Agus, yang kala itu masih menjabat sebagai menteri keuangan, menggantikan posisi Darmin Nasution.Next


(DES/dru)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!