Perang Melawan Pewangi di Jepang

Jakarta -Pada tahun lalu Kementerian Lingkungan Jepang mengeluarkan saran yang unik bagi kaum perempuan, yang berkeringat saat keluar pada musim panas. “Perangi bau badan!” katanya. Kementerian itu lalu menganjurkan pemakaian pewangi pakaian sintentik.

Tapi lambat laun, di Jepang - negeri yang bau-bauan begitu nyaris tak kentara, wewangian dari pewangi sintetik itu telah menimbulkan “Perang melawan wangi”. Rupanya, makin banyak orang Jepang yang memprotes wewangian pakaian itu.


Padahal, sejumlah produk pewangi pakaian populer sekali pasca kampanya awal tahun tadi. Contoh saja merek Downy yang diproduksi oleh Procter & Gamble. Tapi akhir-akhir ini masyarakat mulai melawan popularitas itu.


Kelompok bernama Chemical Sensitivity Support Center dan Society Demanding Fragrance Restraint rajin mengkampanyekan penolakan terhadap pewangi pakaian. Media massa menyebut fenomena anyar itu sebagai 'pelecehan bau'.


“Saran dari kementerian lingkungan telah membuat saya terngaga,” kata Machiko Tsuji, Kepala Kelompok Anti-Pestisida Tokyo dalam suratnya kepada Kementerian Lingkungan. "Tidakkah Anda tahu bahwa banyak orang mengalami masalah kesehatan gara-gara pelembut dan pewangi pakaian buatan pabrik?”


Kementerian itu kemudian membalas dengan menyatakan bahwa pihaknya mengeluarkan saran itu sebagai solusi, setelah melakukan survei. Lagi pula, kata mereka lagi, tak ada bukti yang mengaitkan pewangi pabrik dengan masalah kesehatan.


Pewangi-pewangi yang populer di dunia barat, mulai dari sabun sampai krim bercukur, sudah lama hadir di Jepang. Tapi khusus untuk parfum atau pewangi, kurang bagus penjualannya di negeri yang masyarakatnya kurang menyukai wewangian yang terlalu dominan. Next


(DES/DES)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!