"Banyak investor asing yang datang ke kita minta mengelola bandara besar seperti Soekarno-Hatta dan Kuala Namu," kata Direktur Teknik dan Kebandarudaraan AP II Salahudin Rafi saat ditemui Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (27/3/2014).
Rafi mengatakan, namun permintaan tersebut wajib ditolak, pasalnya bandara tersebut merupakan pusat utama pergerakan lalu-lintas penumpang dan pesawat di Indonesia. Apalagi melepaskan kerjasama pengelolaan tersebut dengan investor asing.
Tapi, AP II justru mendorong investor asing untuk mengelola bandara kecil, seperti Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang dan Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh, di mana bandara tersebut belum terlalu tinggi lalu lintas penerbangan dan pesawatnya,
"Tapi mereka pada nggak mau dikasih bandara tersebut. Maunya bandara yang besar," ucapnya.
Rafi mengakui, Bandara Soetta yang menduduki bandara tersibuk nomor 8 di dunia, saat ini masih menjadi tulang punggung pendapatan AP II.
"Soetta menyumbang 85% dari total pendapatan," ungkapnya.
Seperti diketahui, 13 Bandara yang dikelola AP II antara lain: Kuala Namu (Medan), Sultan Iskandar Muda (Aceh), Silangit Siborong-Siborong (Sumatera Utara), Minangkabau (Padang), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkal Pinang), Soekarno-Hatta (Jakarta), Halim Perdana Kusuma (Jakarta), Supadio (Pontianak), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Husein Sastranegara (Bandung), dan Raja Haji Fisabililah (Tanjung Pinang).
(feb/rrd)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!