Seperti diceritakan sebelumnya, keluwesannya bergaul membuat Sunny berkenalan dan berteman dengan seorang bos konfeksi asal Jepang, Nobuyuki Kakizaki. Pemilik perusahaan Real Point Inc. ini kemudian mengajaknya berbisnis tas kulit buatan tangan.
“Orang Jepang itu sangat menyukai produk handmade, itu sebabnya tas Robita sangat disukai di sana,” kata Sunny, kepada detikFinance, di Denpasar, Bali, pada Selasa (18/3/2014).
Tapi lantaran tak punya pengalaman membikin tas, perlu waktu lama bagi Sunny untuk menghasilkan tas yang memuaskan Kakizaki dan rekanannya di Jepang. Dia mulai dengan satu orang staf yang bertindak sebagai penjahit dan pembuat tas.
Awalnya produk mereka dinilai kurang berkualitas. Malah untuk menghasilkan satu sampel saja butuh waktu sampai enam bulan. Responsnya pun negatif. Begitu beberapa kali, sampai si penjahit merasa bosan dan hendak keluar.
“Tapi saya bujuk dia, saya beri rokok dan ajak makan,” kata Sunny, seraya tertawa. Dia mengakui, pengalamannya membuat tas memang nihil. Semuanya coba-coba.
Tapi Sunny bilang tekadnya sudah bulat, sehingga dia tak mau mundur meski berkali-kali gagal. Dia juga memuji kesabaran dan kepercayaan Kakizaki di Jepang. Akhirnya, lambat laun situasi membaik. Tas yang mereka bikin dinilai memuaskan. Next
(DES/DES)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!