BUMN Ini Mulai Produksi Garam Farmasi Supaya RI Tak Perlu Impor

Jakarta -Indonesia masih tergantung terhadap produk garam farmasi impor. Padahal Indonesia memiliki sumber daya garam yang bisa diproduksi menjadi garam farmasi.

Untuk mengurangi ketergantungan impor ini, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Garam (Persero) membangun pabrik pengolahan garam farmasi di Watudakon, Jombang, Jawa Timur. Komitmen pembangunan pabrik garam farmasi ini ditindaklanjuti dengan penandatangan kerjasama antara Direktur Utama Garam Yulian Lintang, Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rusman. Penandatangan ini disaksikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.


Rusdi menjelaskan demi memenuhi kebutuhan garam farmasi untuk bahan baku obat, Kimia Farma selama ini mengandalkan impor. Dengan adanya pabrik ini, ketergantungan bisa berkurang. Pada tahap awal, pabrik garam farmasi mampu memproduksi 3.000 ton.


Proses kontruksi pembangunan pabrik dimulai triwulan III 2014 dan baru bisa memproduksi pada pertengahan 2015. Untuk membangun pabrik ini dibutuhkan investasi Rp 25 miliar.


"Ini terobosan kemandirian bahan baku obat di Indonesia yang selama ini impor. Hari ini Kimia Farma bersyukur. Tonggak kemandirian bahan baku obat, yang dimulai dari garam," kata Rusdi saat penandatanganan kerjasama di Lantai 21, Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (22/4/2014).


Untuk pengembangan pabrik, sebenuhnya dibiayai Kimia Farma. Garam farmasi bisa digunakan sebagai bahan baku infus, produksi tablet, pelarut vaksin, sirup, oralit, cairan pencuci darah hingga minuman kesehatan.


Bahan baku farmasi ini akan digunakan sendiri dan dijual secara komersial. Sementara bahan baku garam akan dipasok oleh BUMN garam yakni PT Garam. Ke depan kapasitas produksi garam farmasi akan ditingkatkan hingga 6.000 ton per tahunnya.Next


(feb/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!