Chairul menceritakan ketika kuliah menunggu bus selama 30 menit tidak masalah. Namun sekarang menunggu bus selama 5 menit saja masyarakat sudah marah.
"Sudah banyak perubahan. Dulu saya nunggu bus 30 menit nggak marah. Kalau sekarang lewat dari 5 menit saya marah. Bahkan akan langsung berpikir pemerintah ngurus begini saja masa tidak becus," kata Chairul dalam acara Sosialisasi Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2015-2019 di kantor Kemenhub, Jakarta, Selasa (22/4/2014).
Kemudian, tambahnya, bila bus yang ditumpangi tidak menggunakan air conditioner (A/C), dulu tidak masalah. Tapi sekarang bila ada bus dengan A/C yang mati, tidak sedikit orang yang akan mengeluh.
Selanjutnya, perbandingan pengguna bus dulu dan sekarang adalah soal daya tampung. "Dulu (bus) penuh itu nggak masalah. Malah saya senang, bisa nggak bayar kan. Tapi kalau sekarang marah lagi," tuturnya.
Kesimpulan dari persoalan ini, menurut Chairul, adalah peningkatan ekspektasi masyarakat terhadap transportasi umum. Kenaikan ekspektasi itu berasal dari peningkatan status sosial.
"Ini yang saya sebut teman-teman di Kemenhub lupa, pemerintahan seperti kurang sadar. Masalahnya adalah dengan meningkatnya income per kapita, status sosial meningkat dan ekspektasi masyarakat terhadap sevice pemerintah itu juga luar biasa," paparnya.
(mkl/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!