“Kemarin kita punya 3 pilot WNI, tapi 2 orang diambil Garuda. Total sekarang ada 190 pilot, captain-nya ada 100. Pilot kita dari orang India, Melaysia, Tiongkok, Taiwan, Jepang. Yang banyak itu bule,” kata pemilik Susi Air, Susi Pudjiastuti, kepada detikFinance di Hotel Hyatt, Jakarta seperti dikutip Senin (23/6/2014).
Susi memiliki alasan mempekerjakan ratusan pilot asing. Ia menyebut terjadi defisit kebutuhan pilot lokal karena sekolah penerbangan di Tanah Air tidak mampu menyediakan sesuai permintaan industri Indonesia yang terus tumbuh.
“Kalau lihat industri, kita butuh 2.000-3.000 pilot baru per tahun. Itu kondisi sekarang yakni artinya Lion dan Garuda beli pesawat lagi. Kalau di dalam negeri hanya mampu cetak 600-800 pilot,” paparnya.
Tantangan lainnya adalah ketika Susi Air berencana mendirikan sekolah penerbangan atau flying school, muncul aturan yang menghambat. Selain itu, pilot senior juga enggan menjadi pengajar karena gaji instruktur lebih kecil dibandingkan menjadi penerbang.
“Persoalan yang lain, buka flying school saja susah karena instruktur nggak ada,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kemampuan pilot asing, Susi Air memberi pembekalan khusus. Pasalnya mayoritas rute penerbangan Susi Air adalah daerah-daerah terpencil dengan kondisi geografis sulit dan bandara yang minim infrastruktur.Next
(feb/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!