Ini membuat IHSG selama sepekan menguat terbatas 0,88% dengan volume dan nilai transaksi menipis. Rata-rata nilai transaksi sepekan kemarin turun di Pasar Reguler menjadi hanya Rp4 triliun dibandingkan rata-rata harian sepanjang Mei lalu yang mencapai Rp8 trliun. Seiring tren pelemahan rupiah atas dolar AS saham-saham sektoral yang sensitif interest rate kembali tertekan sedangkan aksi beli selektif cenderung melanda saham-saham pertambangan.
Sementara Wall Street sepekan terakhir kembali melanjutkan tren bullish mencatatkan rekor tertinggi baru. Indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 1,24% dan 1,34%. Ini sejalan dengan tren pemulihan ekonomi AS yang ditopang dengan data manufaktur, tenaga kerja, dan penjualan rumah yang meningkat. Memasuki perdagangan awal pekan ini, IHSG diperkirakan masih akan melanjutkan tren konsolidasinya.
Sentimen positif yang berasal dari perekonomian global masih akan dibayangi dengan ancaman melebarnya defisit transaksi berjalan di mana April lalu mencatatkan defisit USD1,96 miliar membuat tekanan atas rupiah dan sentimen politik menjelang pilpres bulan depan. Aksi ambil untung pemodal asing juga mesti diwaspadai menyusul tekanan atas rupiah. IHSG diperkirakan akan bergerak bervariasi dengan support di 4900 dan resisten di 4960.
IHSG : S1 4900 S2 4870 R1 4960 R2 5000
Saham Pilihan
JPFA 1280-1390 TB, SL 1265
KLBF 1590-1650 TB, SL 1570
ADRO 1290-1350 TB, SL 1260
TINS 1370-1440 BoW, SL 1355
INCO 3850-3950 BoW, SL 3800
UNTR 22500-23400 TB, SL 22100
HRUM 2425-2520 BoW, SL 2400
(ang/ang)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!