"Pengaruhnya lumayan besar ke defisit neraca perdagangan," kata pria yang akrab disapa CT itu saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/6/2014).
CT menyebut hingga saat ini stok biji tambang mentah di Freeport sudah mencapai US$ 2 miliar. Sedangkan stok biji tambang mentah milik Newmont mencapai US$ 150 juta.
"Dari 2 perusahaan itu saja sudah US$ 2,150 miliar. Belum dari perusahaan seperti Vale. Tentu pengaruhnya besar," ungkapnya.
Dikatakan CT, pemerintah baik dengan Freeport maupun Newmont terus melakukan pembicaraan terkait komitmen kedua perusahaan tersebut membangun smelter. Bila urusan selesai dan ada komitmen baik dari Freeport dan Newmont membangun smelter, maka kedua perusahaan tersebut diperbolehkan kembali melakukan ekspor produk tambang dalam bentuk olahan.
"Tetapi bagi Indonesia bila mereka membangun smelter tentu added value-nya lebih baik. Bukan cuma nilai ekspornya lebih tinggi, tetapi penyerapan tenaga kerja dan efek ekonomi lainnya luar biasa. Jadi keuntungannya lebih baik," paparnya.
Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2014 kembali ke zona defisit, setelah 2 bulan sebelumnya mencatatkan surplus. Neraca perdagangan April mengalami defisit US$ 1,97 miliar.
Pada April 20014, nilai ekspor Indonesia tercatat US$ 14,29 miliar, turun 3,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara impor adalah sebesar US$ 16,26 miliar, turun 1,26%.
(wij/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!