"Ekspor perdana ini menjadi pemula dari upaya kami memacu kinerja pabrik bioetanol pada masa mendatang," ujar Dirut PTPN X, Subiyono dalam siaran pers yang diterima, Rabu (2/7/2014).
Meski demikian, Subiyono mengaku kecewa dengan respons pasar dalam negeri yang minim terhadap pemanfaatan bioetanol untuk menopang ketahanan energi. Pemerintah juga dinilai tidak serius mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati seperti bioetanol dari tetes tebu (molases).
"Banyak orang bicara kedaulatan energi. Tapi mana kenyataannya? Negeri kita impor BBM terus, realisasi produksi minyak menurun, cadangan minyak bumi menipis, tapi ini ada potensi bioetanol yang sifatnya terbarukan dan ramah lingkungan kok malah tidak dioptimalkan," tutur Subiyono.
Selain Filipina, PTPN X juga tengah menjajaki kerjasama ekspor dengan negara-negara lain di antaranya Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda.
"Ada beberapa perusahaan yang sudah menyatakan minat terhadap produk bioetanol kami. Sudah ada pembicaraan. Semoga bisa segera terealisasi kontrak jual-belinya. Tapi sejujurnya saya kecewa karena niat bangun pabrik dulu adalah untuk menopang kedaulatan energi Indonesia, bukan untuk energi negara lain," katanya
Dia menjelaskan, Filipina menjadi salah satu pasar yang prospektif karena negara itu sedang gencar mencanangkan mandatory blending BBM E 10 (kewajiban pencampuran 10% bioetanol dalam bahan bakar kendaraan). Next
(zul/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!