"Yang pakai RON 88 sudah jarang di dunia, itu bensin jadul. Selain Indonesia yang pakai negara seperti Srilanka," ujar Vice President Strategic Planning, Business Development, and Operation Risk Direktorat Pengolahan Pertamina Achmad Fathoni Mahmud di acara Workshop Direktorat Pengolahan Pertamina di Sentul, Bogor, Sabtu (24/1/2015).
Namun untuk menghapus RON 88, lanjut Fathoni, butuh waktu. "Kilang kita belum mampu memproduksi BBM yang memiliki RON tinggi. Kilang kita rata-rata produksinya RON 56," ungkapnya.
Pertamina, tambah Fathono, memiliki program Refinery Development Masterplan Program (RDMP). Ini merupakan perluasan, peningkatan kapasitas, dan teknologi kilang-kilang yang dimiliki Pertamina. Untuk melakukan program RDMP ini, Pertamina menggandeng Saudi Aramco, Sinopec, dan JX Nippon.
"Setelah program RDMP ini selesai, produksi BBM langsung di atas RON 92 atau sudah standar EURO IV. Tapi program ini baru selesai pada 2025," katanya.
Pemerintah, menurut Fathoni, memberikan waktu 2 tahun kepada Pertamina untuk melikuidasi Premium dan digantikan dengan BBM yang lebih baik. Bila ini dilakukan, maka akan banyak nafta yang tersisa, Nafta adalah salah satu bahan baku untuk memproduksi Premium.
Agar nafta tidak terbuang, salah satu yang bisa mengolahnya adalah kilang TPPI. Namun, permasalahan kilang tersebut sedang diselesaikan oleh pemerintah.
"Kita tunggu saja langkah pemerintah," tutupnya.
(rrd/hds)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com