Mulai 1 Januari 2015, pemerintah telah mencabut subsidi BBM jenis Premium sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar. Sementara Solar masih diberikan subsidi tetap (fixed subsidy) sebesar Rp 1.000/liter dan sisanya menyesuaikan harga pasar atau keekonomian.
Kebijakan ini sebenarnya sudah cukup lama dinantikan oleh pelaku pasar. Pasalnya, harga BBM yang murah karena disubsidi membuat masyarakat cenderung boros. Sementara Indonesia saat ini sudah menjadi negara importir baik minyak mentah maupun BBM.
Impor BBM yang tinggi membebani neraca perdagangan, transaksi pembayaran, dan pada akhirnya nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, harga BBM yang kini bisa naik-turun diharapkan mampu membuat masyarakat berpikir ulang untuk boros BBM. Impor BBM akan berkurang, dan perekonomian Indonesia pun diharapkan lebih stabil.
"Meskipun kita sudah buat kebijakan, tapi masih ada masalah lain. Jadi kita nggak bisa bilang kebijakan itu bisa menyelesaikan semua," tegas Bambang kala ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (7/1/2015).
Menurut Bambang, menguatnya dolar AS menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Sentimen positif dari kebijakan BBM belum mampu membendungnya.
"Rupiahnya mungkin nggak terlalu terpengaruh. Tapi dolarnya kalau menguat beda kan," ujar Bambang.
Selain penguatan dolar AS, lanjut Bambang, investor juga khawatir anjloknya harga komoditas akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Sebab, lebih dari separuh ekspor Indonesia masih dalam bentuk komoditas.
"Ada kondisi yang tidak pasti sekarang, termasuk penurunan harga minyak dan komoditas. Pasti semua orang akan menganggap Indonesia akan kesulitan karena sebagian besar ekspor tergantung komoditas mentah. Jadi sentimennya juga negatif," jelasnya.
(mkl/hds)