Banyak Pengemplang Pajak, Uni Eropa Kehilangan Rp 12.000 Triliun/Tahun

Brussel - Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa saat ini tengah berusaha untuk mengejar para penghindar pajak yang menyebabkan negara anggota Uni Eropa kehilangan pendapatan 1 triliun euro atau Rp 12.000 triliun per tahun.

"Kita harus menggunakan momentum politik untuk menyelaskan masalah yang kritis ini," ujar Presiden European Council Herman Van Rompuy saat memimpin pertemuan para pemimpin negara-negara Uni Eropa seperti dikutip dari Reuters, Senin (15/4/2013).


"Penghindaran pajak tidak adil bagi masyarakat yang telah bekerja keras dan membayar pajak dengan taat. Juga tidak adil bagi perusahaan-perusahaan yang membayar pajak, namun menemukan bahwa perusahaan saingannya ternyata tidak,' kata Van Rompuy.


Dia mengatakan, isu penting yang bakal dibahas dalam pertemuan Uni Eropa di Brussel pada 22 Mei nanti, adalah menekan Austria agar bisa ikut menyepakati soal pembagian informasi terkait data-data pemegang deposito di perbankan, agar bisa dilacak jika ada yang melakukan pengihindaran pajak.


Saat ini hanya Austria dari 27 negara anggota Uni Eropa yang belum mau menandatangani rencana aturan pertukaran data pemegang deposito di perbankan. Menteri Keuangan Austria ingin melindungi citra Austria selama ini sebagai tempat penyimpanan deposito perbankan teraman.


Para pembuat kebijakan di Uni Eropa menyatakan hampir semua negara anggota Uni Eropa yang akan meneken aturan bersama tersebut guna menghindari pengemplang pajak.


Luxemburg sebagai negara dengan industri perbankan terbesar di Uni Eropa, telah menyatakan sikapnya untuk meneken aturan bersama tersebut, dan melaksanakannya mulai 2015.


Van Rompuy mengatakan, ada 1 triliun euro yang hilang dari pendapatan negara-negara anggota Uni Eropa akibat penghindaran pajak. "Untuk memberi anda bayangan, nilainya (penghindaran pajak) 1 triliun euro atau setara PDB Spanyol, negara dengan ekonomi kelima terbesar di Uni Eropa. Nilai itu hampir sama dengan anggaran Uni Eropa untuk 7 tahun. Dan nilai tersebut 100 kali lebih besar dari pinjaman yang akan kita berikan ke Siprus," tegas Van Rompuy.


"Penghindaran pajak adalah masalah serius untuk kita yang sedang membutuhkan sumber daya untuk memperbaiki sektor keuangan publik. Krisis ekonomi yang kira hadapi saat ini bisa dibantu dengan memperbaiki sistem pajak," tegas Van Rompuy.


(dnl/ang)



readmore »»  

Market Flash eTrading

Jakarta - Pada perdagangan Jumat (12/4) Indeks Dow Jones ditutup flat -0,08 poin (0,00%) ke 14.865,06 ditengah rilis data ekonomi yang lebih rendah dari ekspektasi jobless claims US yang lebih baik dari ekspektasi.

Minyak light sweet diperdagangkan di level US$91 per barel di New York setelah data retail sales dan consumer confidence US menurun dibandingkan bulan sebelumnya.


IHSG Jumat lalu (12/4) ditutup naik 12,95 poin (+0,26%) ke 4.937,21 dengan asing tercatat melakukan net buy di pasar reguler sebesar Rp249 miliar dengan saham yang paling banyak dibeli a.l. BMRI, GGRM, SMGR, BBCA, dan BBNI.


Mata uang Rupiah terdepresiasi 9.714 per Dollar AS.


Secara teknikal kenaikan IHSG menghasilkan sinyal bullish pada indikator stochastic.


Pada perdagangan hari ini (15/4) IHSG diperkirakan akan naik di mana hal ini juga dikonfirmasi oleh indikator MA 5 dan MA 20 yang menghasilkan sinyal bullish dan diperkirakan akan bergerak di kisaran 4.850-4.985 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan a.l. BMRI, GGRM, dan SMGR.


(etr/ang)



readmore »»  

Buruh Tolak Usulan Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

Jakarta - Kalangan buruh nyatanya tidak satu suara dengan pengusaha menanggapi usulan pemerintah untuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Buruh tetap menolak keras adanya usulan kenaikan harga BBM bersubsidi.

"Pihak buruh melalui konfederasi serikat pekerja Indonesia (KSPI) dan majelis perserikatan buruh Indonesia (MPBI) menolak rencana kenaikan harga BBM," ungkap Presiden KSPI Said Iqbal kepada detikFinance, Senin (15/04/2013).


Said beralasan kenaikan walaupun kenaikan harga BBM berkisar antara Rp 500-1000/liter akan mengakibatkan kenaikan ongkos transportasi sebesar Rp 30.000/bulan. Kemudian belum lagi menurutnya mahalnya biaya bahan makanan yang membuat buruh semakin terjepit.


"Kemudian buruh akan membeli makanan dengan harga lebih mahal dan adanya tambahan biaya sebesar Rp 100 ribu/bulan karena inflasi. Belum lagi harga sewa/kontak rumah naik Rp 100 ribu/bulan jadi bisa dipastikan daya beli buruh (purchasing power) akan turun sekitar 30% dari kenaikan upah minimum Rp 500 ribu-700 ribu/bulan," jelasnya.


Sementara itu, niat pemerintah untuk memberikan kompensasi berupa bantuan langsung tunai (BLT) pun ditolak oleh Said. Dikatakan dia, pemberian BLT tidak menguntungkan bagi masyarakat dan hanya dijadikan menarik simpati rakyat belaka.


"Pemberian BLT menjelang pemilu 2014 sangat politis sekali seperti yang terjadi tahun 2004 dan 2009 karena akan menguntungkan posisi presiden dan partai penguasa tuk meraup suara dan simpati rakyat miskin yang jumlahnya banyak. Tetapi di sisi lain membuat buruh menjadi miskin. Jadi kenaikan BBM dan BLT ini sangat politis bukan hitungan ekonomis," katanya.


Untuk itu, pihaknya sedang berencana untuk melakukan aksi menentang kenaikan harga BBM dan pemberian BLT bagi rakyat miskin.


"KSPI akan melakukan aksi penolakan di seluruh indonesia bersama mahasiswa dan elemen gerakan sosial lainnya menentang rencana kenaikan BBM dan pemberian BLT," ujarnya.


(wij/ang)



readmore »»  

Manajemen Perusahaan, Kemudi Perusahaan

Jakarta - Dalam memilih saham untuk investasi jangka panjang, investor seringkali menggunakan Analisis Fundamental. Analisis Fundamental mencakup banyak hal, baik hal yang bisa dihitung dengan angka (kuantitatif) seperti laba rugi, dan hal yang bisa bisa diangkakan.

Nah,beberapa hal yang tidak bisa dihitung dengan angka tersebut terkait dengan analisis kualitatif sebuah perusahaan.


Seperti yang pernah saya sebutkan dalam twitter saya @pakarsaham, salah satu faktor penting di dalam menilik kualitas sebuah perusahaan adalah memeriksa manajemen perusahaan. Menganalisis manajemen perusahaan sangat penting karena manajemen sebuah perusahaan merupakan tulang punggung bagi kesuksesan sebuah perusahaan.


Manajemen sebuah perusahaan juga ibarat kemudi bagi sebuah kendaraan. Nasib sebuah perusahaan sangat ditentukan oleh keputusan dan strategi yang diambil oleh pihak manajemen perusahaan.


Untuk mengetahui seberapa bagus dan seberapa kuatnya manajemen sebuah perusahaan, kita bisa mulai menganalisis dari 5 W, yaitu “who, where, what, when and why”, sebagai berikut:

1) WHO: siapa orang-orang di balik kemudi sebuah perusahaan, siapa CEO, CFO, CIO-nya dan lain sebagainya


2) WHERE: “dari mana” asal-usul orang-orang itu? Apa latar belakang pendidikan dan latar belakang karirnya? Apakah latar belakangnya cocok untuk menjalankan industri terkait ? Misalnya,jika sebuah perusahaan bergerak di bidang pertambangan,apakah CEO nya punya pengalaman di sektor itu sebelumnya?


3) WHAT: Apa sih yang menjadi visi dan filosofi dari manajemen terkait? Apa tindakan yang diambil oleh para manajer tersebut sebelumnya? Beberapa manajer bersikap fleksibel, namun manajemen lain memilih untuk bersikap lebih teratur & logic. Tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah Anda menyetujui filosofi-filosofi yang mereka pakai selama ini?


4) WHEN: cek, berapa lama manajer tersebut mengendalikan perusahaan. Sebagai contoh, Jack Welch telah menjadi CEO dari General Electric selama 20 tahun. Pengabdiannya dalam jangka panjang bisa dibilang sebagai tanda keberhasilannya menjadi nahkoda dari General Eectric. Jika Jack Welch tidak berhasil dalam menggiring perusahaan maka direktur akan mengganti posisinya dengan yang lain, atau melakukan restrukturisasi. Restrukturisasi berarti perubahan manajemen dikarenakan buruknya performa sebuah perusahaan. Jika Anda melihat manajemen sebuah perusahaan yang terus berubah-ubah,maka itu adalah tanda Anda harus waspada. Restrukturisasi manajemen tidak selalu berarti negatif. Restrukturisasi bisa menunjukan tanda positif karena perusahaan tersebut berjuang untuk menjadi lebih baik.


5) WHY: faktor terakhir yang harus dianalisis dari manajemen sebuah perusahaan adalah WHY, yaitu mengapa orang-orang ini terpilih menjadi manajer perusahaan? Apakah manajer tersebut nmemperoleh posisinya karena ditunjuk dan berprestasi,atau karena ia menunjuk dirinya sendiri /mewarisi posisi tersebut?


Sebuah perusahaan yang mempunyai manajemen yang baik juga ditunjukkan dengan adanya tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG) yang baik. Sebagai contoh emiten yang mempunyai GCG baik adalah Bank Mandiri, yang memperoleh penghargaan dalam ajang Corporate Governance Asia Annual Recognition Award pada tahun 2012, selama 4 tahun berturut-turut.


Adanya Good Corporate Governance menunjukkan leadership yang efektif dari manajemen perusahaan dan menjadi faktor penting yang menentukan tingkat profitabilitas, reputasi serta keberhasilan dalam memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham.


Sekali lagi, manajemen sebuah perusahaan merupakan kemudi yang menentukan nasib perusahaan tersebut. Jangan beli kucing dalam karung, teliti sebelum membeli sebuah saham untuk investasi jangka panjang.


Salam profit.


*) Ellen May. Trader, investor saham, pendiri Ellen May Institute, penulis Smart Traders Not Gamblers, @pakarsaham.


(ang/ang)



readmore »»  

Dahlan Iskan: Buronan yang Menghasilkan Panja

Jakarta - Telah lahir: Panja Ketenagakerjaan BUMN di Komisi IX DPR RI. Itulah kesimpulan rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri BUMN tanggal 10 April lalu.

Saya senang dengan lahirnya Panja itu. Dengan Panja pembahasan masalah ketenagakerjaan di BUMN akan sangat mendalam. Panja tentu akan mendengarkan banyak pihak yang pantas didengar: tokoh-tokoh serikat pekerja, manajemen BUMN yang rugi, BUMN kecil, BUMN besar, BUMN yang mempraktikkan sistem ketenagakerjaan yang baik dan yang kurang baik, dan banyak pihak lagi.


DPR, khususnya Komisi IX, tentu lembaga yang sangat kritis yang bisa menyerap berbagai realitas di lapangan. Baik realitas tenaga kerja yang harus kian sejahtera maupun realitas perusahaan yang harus dijaga pertumbuhan dan sustainabilitasnya.


Saya sendiri menyesal sempat terlalu lama jadi "buron" Komisi IX. Ternyata komisi ini sangat dinamis. Anggota-anggotanya mengesankan. Banyak dokternya (saya lupa Komisi IX adalah komisi yang juga mengurus kesehatan), intelektualnya, dan begitu banyak wanitanya: cantik-cantik dan cerdas-cerdas.


Ada wakil ketua, Nova Riyanti Yusuf yang dokter ahli kesehatan jiwa, ada Karolin Margret Natasa yang juga dokter, ada Chusnunia Chalim yang ustadzah, dan banyak lagi. Dan jangan lupa ketuanya sendiri: Ribka Tjiptaning yang juga dokter. Bahkan ada dokter Dinajani Mahdi yang bergelar profesor, doktor, dan enam gelar mentereng lainnya.


Tentu, saya tahu apa yang harus dibahas hari itu: outsourcing atau alih daya. Ketika saya menjadi Dirut PLN saya kaget: begitu banyak karyawan outsourcing-nya. Ke mana-mana, ke seluruh Indonesia, saya bertemu dan bergaul dengan mereka.


Saya tahu apa yang mereka alami: gaji jauh lebih kecil (dibanding karyawan tetap), tidak jelas berapa lama akan bekerja di situ (karena bisa saja tahun berikutnya kontraknya tidak diperpanjang), dan yang paling utama mereka merasa diperlakukan tidak adil: mereka merasa bekerja lebih keras dari karyawan tetap tapi gajinya jauh lebih kecil.


Tahun pertama di PLN, saya sudah langsung bisa merumuskan tiga hal strategis itu. Saya merencanakan untuk dicarikan jalan keluar di tahun ketiga masa jabatan saya. Tahun pertama saya harus memprioritaskan program mengatasi krisis listrik di seluruh Indonesia.


Tahun kedua saya harus mengatasi daftar tunggu yang jumlahnya jutaan. Sampai-sampai harus dua kali melakukan program "sehari satu juta sambungan". Itu sekaligus mengatasi problem percaloan yang sudah mendarah-mendaging. Tahun ketiga, rencana saya, menyelesaikan outsourcing dan melahirkan mobil listrik.


Tidak disangka-sangka saya harus meninggalkan PLN sebelum genap dua tahun menjabat dirut. Saya harus menjadi menteri, meski sudah berusaha untuk bisa tetap di PLN setahun lagi.


Waktu itu saya ingin ada perbaikan sistem tender untuk perusahaan alih daya. Jangan mempertandingkan harga murah tapi kualitas pekerjaan. Bahkan gaji minimal sudah harus dipersyaratkan dalam dokumen tender.


Saya juga selalu mengajak karyawan tetap untuk bekerja lebih keras. "Jangan sampai teman-teman outsourcing mengatakan karyawan tetap itu gajinya besar tapi tidak mau kerja keras," kata saya.


Kini dengan dibentuknya Panja Ketenagakerjaan BUMN oleh Komisi IX, soal-soal itu akan bisa didalami lebih komprehensif. Sistem ketenagakerjaan di BUMN memang tidak seragam. Tergantung masing-masing BUMN. Apalagi BUMN itu memang aneka-ria: bidang usahanya sangat luas. Industri bajanya tidak bisa disamakan dengan industri perbankan, penerbangan, perkebunan, dan seterusnya. Masing-masing mempunyai karakteristiknya sendiri.


Sambil menunggu hasil Panja Ketenagakerjaan Komisi IX DPR, semua BUMN harus menyiapkan perubahan-perubahan yang mungkin harus terjadi. Tentu tidak tahun ini karena sistem anggarannya sudah tidak memungkinkan direvisi. Lebih baik dan lebih siap kalau disiapkan untuk dimulai tahun depan.


Semua persoalan, semua pengalaman dan semua pemikiran harus disiapkan untuk kelancaran kerja Panja Komisi IX. Inilah tahun kerja keras para direktur SDM di masing-masing BUMN. Kalau perlu kurangi sedikit fasilitas direksi untuk yang satu ini.


Tapi saya juga bisa membayangkan sulitnya BUMN-BUMN kecil yang masih serba sulit. Jangankan memikirkan itu, karyawan tetapnya sendiri saja masih jauh dari sejahtera. Bahkan ada BUMN yang baru tahun lalu bisa membayar karyawan tetapnya dengan gaji tetap.


Itulah realitas perusahaan: yang besar sulit dengan kebesarannya, yang kecil sulit dengan kekecilannya, dan yang sulit kian sulit dengan kesulitannya.


Paling enak adalah orang yang bisa menikmati segala kesulitan itu.


(ang/ang)



readmore »»  

Wah, 7.500 Pedagang Bakso Alih Profesi Akibat Harga Daging Mahal

Jakarta - Harga daging sapi yang tak kunjung turun, berkisar di harga Rp 90-95 ribu sungguh menyusahkan banyak lapisan masyarakat. Apalagi sang pedagang bakso daging sapi.

Ketua Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso, Trisetyo Budiman mengungkapkan bergejolaknya harga daging sapi yang terjadi sekarang ini sangat memukul para pedagang bakso. Dampak yang paling nyata dikatakan Trisetyo ialah beralihnya profesi kebanyakan pedagang bakso karena tak sanggup lagi membeli bahan baku yang harganya melambung.


"Menurut saya sudah banyak ada 15% dari komunitas kita sudah berhenti dan alih profesi, ke kampung misalnya jadi buruh lagi, jadi kuli bangunan. Bisa di cek di penggilingan-penggilingan mereka sudah nggak bekerja lagi," kata Trisetyo saat dihubungi detikFinance, Minggu (14/4/2013).


Tri memeperkitakan telah ada 7.500 pedangang bakso dan penggilingan bakso yang tak lagi bekerja, dan lebih memilih untuk beralih profesi.


"Kalau di Jakarta itu 50.000 taruh aja 15% itu sudah berapa. 7500 orang kan. Ya mestinya cepat ditangani ini kenapa," jelasnya.


Saat ini, para pedagang bakso yang masih bertahan bisa mengakali dengan mengurangi komposisi adonan daging sapi dan menggantinya dengan daging ayam. Untuk adonan daging bakso 12 kg, Tri mencontohkan, terdiri dari 9 kg daging ayam, dan 3 kg daging sapi. Padahal normalnya, 99% bakso harus berbahan baku daging sapi.


"Sedangkan kita kan mulai dari zaman majapahit sampai sekarang itu bakso yang disenangi itu secara kultur ya dari daging sapi. Itu masa mau dihanyutin dari budaya makanan," tegasnya.


Dia mengungkapkan sejatinya pemerintah secara sigap mengatasi permasalahan ini. Dia mengibaratkan, bakso daging sapi ini merupakan salah satu ikon tanah air, sama halnya dengan batik, wayang, ataupun angklung.


"Nanti ada bakso dengan campuran tulang-tulang dan lain-lain yang secara fundamental tidak mengacu pada basic-nya bakso. Itu yang mestinya di- maintain. Itu nggak ada bedanya dengan kita melestarikan angklung, wayang. Itu nggak ada bedanya dengan melestarikan bakso dari sapi," tutupnya.


(zul/dru)



readmore »»  

Harga Daging Sapi Masih Tinggi, Diprediksi Tembus Rp 120.000/Kg

Jakarta - Harga komoditi daging sapi saat ini masih belum menunjukkan penurunan. Untuk daerah di DKI Jakarta, harga daging sapi masih berkisar di angka Rp 90-95 ribu/kg.

Ketua Komite Daging Sapi DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengungkapkan, jika tak segera diantisipasi dikhawatirkan harga ini akan terus melonjak. Terlebih harga tersebut diperkirakan akan menembus Rp 120.000/kg pada bulan puasa dan lebaran nanti.


"Perkembangan harga saat ini belum ada perubahan signifikan. Masih stabil tinggi. Kalau tidak menjelang lebaran nanti harga ini bisa mencapai Rp 120.000 nantinya. Karena tahun lalu saja masih Rp 120.000," ujar Sarman kepada detikFinance, Minggu (14/4/2013).


Dikatakan Sarman, hingga saat ini belum ada langkah konkrit dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini. Khusus untuk daerah di DKI Jakarta, Sarman mengatakan, kebutuhan daging semakin tinggi, pihaknya mengusulkan agar adanya kuota khusus daging sapi sebanyak 50.000 ton untuk DKI Jakarta.


"Kami belum melihat ada tanda-tanda pemerintah untuk kepastian penambahan kuota. Kami sampai saat ini masih belum melihat langkah dari Gubernur yang 50.000 ton itu untuk Jakarta," tegas Sarman.


Kebutuhan daging sapi di Jakarta sendiri masih belum tercukupi. Jika masalah ini terus berlarut-larut, dikahawtirkan dampak yang semakin serius akan dialami oleh sektor-sektor yang banyak memerlukan daging sapi sebagai bahan bakunya.


"Kebutuhan Jakarta itu sekitar 50 ribu ton. Itu untuk kebutuhan sapi olahan, Horeka (Hotel resturan dan katering) dan UKM kita warteg, warung padang, bakso itu kan semua butuh daging, belum lagi tingkat konsumsi dari turis-turis kita kan 4 juta orang yang datang ke jakarta itu per tahun," papar Sarman.


(zul/dru)



readmore »»