Produksi Minyak Indonesia Masih di Bawah Target

Jakarta -Sampai saat ini produksi minyak nasional hanya mencapai 830.000 barel per hari atau jauh di bawah target. Hal ini salah satu faktor yang membuat impor minyak makin meningkat.

Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradyana mengatakan produksi minyak saat ini rata-rata hanyai 832.000 barel per hari.


"Produksi minyak rata-rata saat ini adalah 832.000 barel per hari," kata Gde kepada detikFinance, Minggu (17/11/2013).


Tentunya produksi minyak sebesar 830.000 barel per hari masih di bawah target produksi minyak pada APBN Perubahan 2013 yang mencapai 840.000 barel per hari.


Padahal kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional per harinya mencapai 1,4 juta barel, sehingga sisanya harus dipenuhi dari impor, minyak mentah maupun Bahan Bakar Minyak (BBM).


Gde mengungkapkan belum tercapainya produksi minyak tersebut karena beberapa masalah.


"Terjadi planned dan unplanned shutdown yang menyebabkan kehilangan Produksi, seperti meningkatnya water cut, Pemortalan jalan truck oleh penduduk, high pressure problem di pipa, ramp up produksi setelah maintenance," ucapnya.


(rrd/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Etihad dan Emirates Borong Pesawat Airbus dan Boeing

Dubai -Pameran dirgantara terakhir tahun ini, Dubai Airshow dimanfaatkan oleh para maskapai penerbangan besar di Timur Tengah. Pada hari pertama pembukaan Dubai Airshow, sederet pemesanan telah tercatat dalam ajang ini.

Misalnya Etihad Airways telah memesan 56 pesawat Boeing termasuk 25 pesawat untuk penerbangan jarak jauh buatan terbaru dari Boeing yaitu Boeing 777-X yang akan diluncurkan. Total pemesanan dari Etihad senilai US$ 25,2 miliar yang mencakup 25 pesawat Boeing 777-X, 30 pesawat Boeing 787-10 Dreamliners dan 1 Boeing 777-200.


"Hari ini merupakan hari yang penting dalam sejarah Etihad," kata President and CEO Etihad Airways James Hogan dikutip dari AFP, Minggu (17/11/2013)


Sementara itu, Emirates Airline seperti yang diperkirakan sebelumnya, telah memesan 150 pesawat Boeing 777-X dengan nilai fantastis hingga US$ 76 miliar.


CEO Emirates Airways Sheikh Ahmed bin Saeed Al-Maktoum mengumumkan langsung pemesanan ini saat acara Dubai Airshow hari ini. Selain itu, Emirates juga memesan 50 pesawat super jumbo Airbus 380 (A380) senilai US$ 23 miliar. Pembelian ini menjadi pemesanan pertama A380 untuk tahun ini.


Sheikh Ahmed mengatakan dengan pemesanan ini maka maskapainya menjadi satu-satunya operator terbesar yang menggunakan pesawat double-deckers (dua lantai kabin) yang merupakan keunggulan A380.


"Emirates telah paham sejak awal bahwa A380 memiliki keunggulan dalam hal efisiensi, ekonomis dan kenyamanan penumpang," kata CEO A‏irbus Fabrice Bregier dalam acara penandatangan di Dubai Airshow.


Seperti diketahui Dubai Airshow ke-13 berlangsung mulai hari ini hingga Kamis mendatang berlangsung di Bandara Al-Maktoum International. Pada pameran ini ditampilkan 150 pesawat dengan 1.000 peserta pameran.


(hen/rrd)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Harita Group Bangun Smelter Nikel Rp 3,2 Triliun di Halmahera

Jakarta -Harita Group melalui anak perusahaannya PT Megah Surya Pertiwi berencana membangun pabrik pemurnian (smelter) nikel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara dengan investasi US$ 320 juta.

"Kami akan membangun smelter nikel di Pulau Obi, Halmahera sebagai bentuk komitmen kami untuk mendukung program peningkatan nilai tambah produk pertambangan sesuai amanatkan oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba dan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012," kata Direktur Operasi Harita Group, Lim Hok Seng salam keterangan tertulisnya, Minggu (17/11/2013).


Lim mengungkapkan total biaya pembangunan smelter nikel tersebut diperkirakan akan mencapai sekitar US$ 320 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun.


"Total biaya pembangunan yang diinvestasikan dalam proyek smelter nikel ini diperkirakan akan mencapai kurang lebih US$ 320 juta," ujar Lim.


Guna menjamin kepastian pasokan bahan baku mineral untuk beroperasi PTMSP telah membuat Kesepakatan Kerjasama dengan PT Trimegah Bangun Persada (PTTBP) dan PT Gane Permai Santosa (PTGPS). Masing-masing adalah pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi nikel yang terafiliasi di bawah bendera Harita Group dan telah berproduksi di Pulau Obi.


"Dengan teknologi Electric Furnace yang dapat menghasilkan produksi 100.000 ton Ferro Nickel per tahun, serta menggunakan tenaga listrik dari PLTU yang akan dibangun dalam dua tahap secara mandiri oleh Harita," ujar Lim.


"Kami berharap proyek pembangunan smelter ini dapat didukung oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk dukungan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta masyarakat setempat," tandas Lim.


(rrd/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

BI: Rencana Ubah Rp 1.000 Jadi Rp 1 Tak Molor Tapi Belum Ada Jadwal Pasti

Jakarta -Rencana redenominasi rupiah atau penyederhanaan tiga angka nol di mata uang rupiah dari Rp 1.000 jadi Rp 1 masih terkendala dalam penyusunan undang-undang di DPR. Bank Indonesia (BI) menegaskan rencana ini tak molor namun memang belum ada jadwal yang pasti soal kapan pelaksanaannya.

"Program redenominasi bukan molor tapi memang belum ada jadwal pastinya," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas ditemui disela acara Pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah di Lapangan Silang Monas, Minggu (17/11/2013).


Ia mengakui meskipun rancangan undang-undang soal redenominasi sudah masuk dalam prioritas di DPR namun pembahasannya tak mudah, karena banyak aspek yang harus dipertimbangkan.


"Redenominasi itu kan dasarnya harus ada undang-undang, walau sudah menjadi Prolegnas (Program Legislasi Nasional) tahun ini tapi kan masih di DPR, DPR sendiri kan khususnya bidang keuangan masih banyak undang-undang yang dibahas," kata Ronald.


Ronald mengatakan implementasi mengubah Rp 1.000 jadi Rp 1 masih harus melihat kodisi perekonomian dunia yang belum stabil. "Kondisi perekonomian juga harus stabil dulu ketika menerapkan redenominasi, sementara sekarang kan global ekonomi belum stabil," ujarnya.


Selain itu, ia menambahkan tahun depan Indonesia akan menghadapi Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden. Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan pembahasan UU Redenominasi tak akan berjalan mulus.


"Apalagi tahun depan kan tahun Pemilu, ada pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden," ungkapnya.


(rrd/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Ini Ciri-ciri Uang NKRI yang akan Beredar Tahun Depan

Jakarta -Bank Indonesia (BI) akan menerbitkan uang rupiah cetakan baru pada 17 Agustus 2014. Ada beberapa perbedaan mendasar dengan uang rupiah cetakan lama.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas mengungkapkan uang model baru yang akan diterbitkan pada 17 Agustus 2014 tersebut memiliki beberapa ciri.


"Pertama ada frase NKRI, pada uang kertas atau logam ada tulisan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ungkap Ronald ketika ditemui di acara Pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah di Lapangan Silang Monas, Minggu (17/11/2013).


Ronald mengatakan ciri kedua pada uang baru yang akan diterbitkan tersebut adalah adanya tanda tangan Menteri Keuangan (Menkeu). Pada cetakan lama, atau yang kini beredar belum ada tanda tangan Menkeu.


"Sebelumnya uang rupiah hanya ada tanda tangan Gubernur Bank Indonesia dan Deputi Gubernur Indonesia, dalam uang baru tersebut ada tanda tangan Menteri Keuangan," ujar Ronald.


Ronald menambahkan selain itu ada beberapa ciri lainnya yang nantinya akan tercetak di uang tersebut mulai dari gambar pahlawan dan gambar lainnya serta akan ada berbagai sistem pengamanan agar tak mudah dipalsukan.


"Pengamannya apa saja tentu itu rahasia Bank Indonesia, tidak boleh disebutkan nanti bisa membuat orang bisa memalsukan, uang baru nanti itu tetap dalam bentuk uang kertas bukan plastik," katanya.


Perusahaan yang ditunjuk mencetak uang baru NKRI adalah Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri). Peruri sudah menjadi langganan BI dalam hal memenuhi pesanan mencetak uang.


"Undang-Undang mengamanatkan pencetakan uang BI menunjuk kepada BUMN, ya tetap Perum Peruri," tutup Ronald.


(rrd/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Pertumbuhan Ekonomi RI Tertinggi Dibandingkan Negara-negara G20

Jakarta -Krisis Global yang melanda dunia saat ini membuat pertumbuhan ekonomi banyak negara melambat, termasuk Indonesia yang diperkirakan hanya akan mencapai 5,7%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia akhirnya rontok di bawah 6% setelah beberapa tahun terakhir selalu di atas 6%.

Walaupun turun dan hanya mencapai 5,7%, tetapi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya termasuk para anggota G20 yang merupakan kumpulan negara-negara yang ekonominya terbesar di dunia.


"5,7% itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara setara yang hanya mencapai 3,4%-3,6% tahun ini, dan tetap tertinggi diantara negara-negara G20," kata Gubernur Bank Indonesia ditemui di acara Pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah, di Lapangan Silang Monas, Minggu (17/11/2013).


Agus mengungkapkan ekonomi Indonesia 2013 diperkirakan hanya akan mencapai 5,7% atau turun dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada 2012 yang mencapai 6% lebih.


"Pertumbuhan ekonomi global pada 2013 cenderung melambat dibandingkan perkiraan awal tahun, saat ini ekonomi Amerika Serikat mulai menguat dan ekonomi Eropa berpeluang lepas dari krisis sementara ekonomi negara berkembang justru melambat," katanya.


(rrd/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Ini Alasan BI Belum akan Cetak Lagi Uang dari Bahan Plastik

Jakarta -Banyak negara saat ini mulai beralih dari mencetak uang kertas ke uang berbahan plastik. Namun Bank Indonesia (BI) masih berpikir dua kali untuk membuat uang plastik lagi, setelah sebelumnya Indonesia sempat mempunyai uang rupiah versi cetakan dari bahan plastik.

"Memang negara lain banyak yang beralih menggunakan uang plastik, kita dulu juga pernah punya pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000, mereka tapi mulainya dari pecahan kecil dan belajar dari kesalahan kita dulu," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas ketika ditemui disela acara Pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah di Silang Monas, Minggu (17/11/2013).


Ronald mengungkapkan walau tidak jauh berbeda biaya produksinya, namun beberapa bahan uang plastik saat ini masih mudah didapatkan sehingga gampang dipalsukan.


"Ada beberapa bahan dari uang plastik yang mudah sekali didapat sehingga masih mudah dipalsukan," ucap Ronald.


Apalagi banyak kebiasaan masyarakat Indonesia yang menyebabkan uang plastik cepat rusak bahkan tidak bisa digunakan lagi.


"Masyarakat kita itu uang kusut sedikit diseterika ya kalau uang plastik yang diseterika ya rusak, apalagi sering uang itu distaples itu menyebabkan uang plastik cepat robek," ungkapnya.


(rrd/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»