Tambah Frekuensi KRL, Pemerintah Akan Janji Jalur Melayang Rp 10 T

Jakarta -Frekuensi KRL Commuter Line Jabodetabek saat ini sudah maksimal. Bila frekuensi kereta ditambah, maka akan berdampak pada kemacetan panjang lintasan sebidang berpalang pintu. Untuk mengurai persoalan tersebut, pemerintah berencana membangun jalur KRL Commuter layang melingkar atau loop line di Jakarta.

"Frekuensi meningkat. Saat ini nggak bisa tambah frekuensi. Kita maksimal 5 menit. Begitu 3 menit, 1-2 menit ditutup. Itu perlintasan nggak terbuka. Jadi nanti nggak perlu perlintasan sebidang, sehingga frekuensi mau setiap 3 menit nggak masalah," kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kementerian Perhubungan Hanggoro Budi Wiryawan, saat diskusi transportasi di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Sabtu (19/4/2014).


Jalur melayang KRL ini akan dibangun sebanyak 2 rute, yakni jalur timur dan jalur barat. Untuk pembangunan jalur KRL layang tersebut, pemerintah membutuhkan Rp 10 triliun. Dana ini diambil dari pembiayaan multiyears pemerintah pusat.


"Panjang koridor hampir 20-25 kilometer. Jalur timur ada dari Jatinegara-Jakarta Kota. Jalur barat itu dari Manggarai-Tanah Abang-Dukuh Atas-Kota," jelasnya.


Saat ini Kementerian Perhubungan sedang melakukan studi desain dasar terhadap rute loop line tersebut. Setelah desain dasar rampung, selanjutnya dilanjutkan penawaran ke investor.


"Sekarang disiapkan basic design, setelah itu AMDAL selesai. Maka selanjutnya proses lelang. Dana ini pemerintah. Nanti kita siapkan basic design kemudian kita lelang. Silakan kontraktor ajukan penawaran lengkap dengan detail design," sebutnya.


Prioritas pembangunan akan dilakukan pada jalur timur. Proses tersebut direncanakan dimulai akhir tahun ini. Diproyeksi masa konstruksi akan memakan waktu 4-5 tahun.


"Kalau jalur barat complicated (rumit). Di Dukuh Atas banyak integrasi dengan rute monorel, commuter, kereta ekspres, tol, MRT. Koridor barat agak complicated," terangnya.


(feb/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Tambah Frekuensi KRL, Pemerintah Janji Bangun Jalur Melayang Rp 10 T

Jakarta -Frekuensi KRL Commuter Line Jabodetabek saat ini sudah maksimal. Bila frekuensi kereta ditambah, maka akan berdampak pada kemacetan panjang lintasan sebidang berpalang pintu. Untuk mengurai persoalan tersebut, pemerintah berencana membangun jalur KRL Commuter layang melingkar atau loop line di Jakarta.

"Frekuensi meningkat. Saat ini nggak bisa tambah frekuensi. Kita maksimal 5 menit. Begitu 3 menit, 1-2 menit ditutup. Itu perlintasan nggak terbuka. Jadi nanti nggak perlu perlintasan sebidang, sehingga frekuensi mau setiap 3 menit nggak masalah," kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kementerian Perhubungan Hanggoro Budi Wiryawan, saat diskusi transportasi di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Sabtu (19/4/2014).


Jalur melayang KRL ini akan dibangun sebanyak 2 rute, yakni jalur timur dan jalur barat. Untuk pembangunan jalur KRL layang tersebut, pemerintah membutuhkan Rp 10 triliun. Dana ini diambil dari pembiayaan multiyears pemerintah pusat.


"Panjang koridor hampir 20-25 kilometer. Jalur timur ada dari Jatinegara-Jakarta Kota. Jalur barat itu dari Manggarai-Tanah Abang-Dukuh Atas-Kota," jelasnya.


Saat ini Kementerian Perhubungan sedang melakukan studi desain dasar terhadap rute loop line tersebut. Setelah desain dasar rampung, selanjutnya dilanjutkan penawaran ke investor.


"Sekarang disiapkan basic design, setelah itu AMDAL selesai. Maka selanjutnya proses lelang. Dana ini pemerintah. Nanti kita siapkan basic design kemudian kita lelang. Silakan kontraktor ajukan penawaran lengkap dengan detail design," sebutnya.


Prioritas pembangunan akan dilakukan pada jalur timur. Proses tersebut direncanakan dimulai akhir tahun ini. Diproyeksi masa konstruksi akan memakan waktu 4-5 tahun.


"Kalau jalur barat complicated (rumit). Di Dukuh Atas banyak integrasi dengan rute monorel, commuter, kereta ekspres, tol, MRT. Koridor barat agak complicated," terangnya.


(feb/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Orang Thailand Paling Sering Beri Tip di Restoran, Bagaimana dengan RI?

Jakarta -Thailand jadi negara yang masyarakatnya paling dermawan memberikan uang tip saat makan di restoran. Negara gajah putih ini menjadi 'The Nation Top Tippers 2014', mengambil alih posisi Bangladesh yang sebelumnya menjadi yang teratas.

Demikian penelitian yang dilakukan oleh MasterCard di 16 negara Asia Pasifik dalam keterangannya, Sabtu (19/4/2104).


Adapun penelitian ini dilakukan pada Oktober-November 2013 dengan 7.932 responden berumur 18.64 tahun di 14 negara Asia Pasifik.


Pada survei, rata-rata di kawasan Asia Pasifik, 4 dari 10 konsumen terbiasa memberikan uang tip setelah makan di restoran. Sementara di Thailand sendiri memberikan uang tip merupakan suatu hal yang umum dilakukan. Hal tersebut dapat dilihat dari 8 di antara 10 konsumen Thailand selalu memberikan uang tip setelah menikmati santapan mereka.


Sementara itu, hampir seluruh negara mengalami penurunan. Konsumen Bangladesh tahun ini lebih hati-hati dengan pengeluarannya, setelah sebelumnya menjadi negara yang paling dermawan dengan 88% pada survei sebelumnya, kini mereka bertengger di peringkat kedua dengan 80%.


Hal tersebut juga terjadi di Indonesia. Secara umum masyarakat Indonesia makin hati-hati dalam memberikan uang tip di mana terjadi penurunan sebesar 7% dibanding tahun sebelumnya. Indonesia menempati urutan delapan dalam survei ini, di mana terdapat 33% dari konsumennya terbiasa memberikan tip.


"Dari semua penelitian MasterCard, survei seperti ini tentunya akan memberikan pengetahuan yang bagus mengenai tindakan yang diterima oleh masyarakat setempat, dengan demikian para turis dan orang asing akan terbantu untuk menempatkan diri mereka," kata Georgette Tan, group head, Communications, Asia/Pacific, Middle East and Africe, MasterCard dalam keterangannya.Next


(dnl/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Pelindo II Pastikan Gandeng Mitsui Jepang Bangun 'New Tanjung Priok'

Jakarta -BUMN operator pelabuhan yaitu PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) menggandeng perusahaan asal Jepang, yakni Mitsui & co, Ltd (Mitsui) untuk membangun terminal 1 Pelabuhan Kalibaru atau 'The New Tanjung Priok', Jakarta Utara.

Kerjasama yang dilakukan melalui mekanisme proses pemilihan langsung tersebut, diwujudkan dalam bentuk penandatanganan Shareholder Agreement (SHA) yang digelar hari ini.


Direktur Utama Pelindo II RJ Lino mengatakan, penandatanganan SHA ini merupakan kelanjutan dari Memorandum of Agreement (MoA) antara Pelindo II dan Mitsui yang telah ditandatangani sebelumnya pada 25 Februari 2014 lalu di Tokyo, Jepang. Pada penandatanganan sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan ikut hadir dan menyaksikan proses MoU tersebut.


"IPC (Pelindo II) menunjuk Mitsui sebagai operator terminal karena Mitsui dipercaya dapat memberikan nilai tambah bagi dunia kepelabuhan di Indonesia serta memberikan kontribusi untuk membangun fasilitas pelabuhan yang setara dengan pelabuhan di negara maju," kata Lino di Hotel Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Sabtu (19/4/2014).


Mitsui berperan sebagai preferred bidder yakni akan menjadi mitra kerja untuk pembangunan, pendanaan, dan pengoperasian terminal 1 'New Tanjung Priok'.


Lino menjelaskan, pengembangan pelabuhan New Tanjung Priok penting untuk mendukung kegiatan ekonomi negara. Pembangunan pelabuhan 'New Tanjung Priok' tersebut merupakan upaya perseroan untuk melayani lalu lintas logistik di Indonesia agar lebih cepat dan lebih murah.


"Kerjasama ini akan memberi keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, salah satunya adalah mendorong pertumbuhan volume ekspor, terutama dengan tujuan ke Eropa dan Amerika Serikat, untuk tahap pertama," tambahnya.


Pembangunan konstruksi terminal 'New Tanjung Priok' tahap I dimulai pada akhir 2012 dan siap dioperasikan pada akhir 2014, meskipun proses kontruksi masih berjalan.


Terminal 'New Tanjung Priok' tahap I terdiri dari tiga Container Terminal yang masing-masing memiliki kapasitas 1,5 juta TEUs serta dua Terminal Product. Pembangunan Tahap I ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2018 dengan tambahan kapasitas sebesar 4,5 juta TEUs.


(feb/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Temui Putin, Bos Perusahaan Minyak Ini Izin Ekspansi di Rusia

Moskow -Perusahaan minyak raksasa asal Belanda yaitu Shell, berniat untuk memperluas ekspansi bisnis migasnya di Rusia. Chief Executive Officer (CEO) Shell Ben van Beurden kemarin menemui Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membicarakan rencana bisnisnya tersebut.

Pertemuan keduanya ini merupakan sinyal bahwa Kremlin ingin tetap mengikat bisnisnya dengan perusahaan-perusahaan besar Eropa, meskipun hubungan Rusia dan AS, serta negara Eropa Barat sedang panas, karena pengambilalihan Crimea dari Rusia.


Sebelumnya pada 26 Maret 2014, Putin juga melakukan pertemuan serupa dengan CEO Siemens Joe Kaeser, untuk memberikan kepastian kepada Rusia bahwa perusahaan industri asal Jerman itu akan terus berinvestasi secara jangka panjang di Rusia.


Van Beurden mengatakan kepada Putin, Shell ingin memperluas proyek minyak dan gasnya di lapangan Skhalin-2 yang lokasinya di Pasifik. Lapangan ini telah menjual gas alam cair (LNG) ke pasar di Asia.


Proyek tersebut dikontrol oleh perusahaan gas raksasa Rusia yaitu Gazprom, sementara posisi Shell adalah sebagai pemegang saham minoritas.


"Kami kira sekarang adalah saat yang tepat untuk memperluas proyek ini. Dan tentu saja, tujuan kunjungan ini untuk bertemu Presiden Putin, guna meminta dukungan perluasan proyek tersebut," kata van Beurden kepada Putin di kediamannya, seperti dilansir AFP dari kantor berita Rusia, Sabtu (19/4/2014).


Menanggapi kunjungan itu, Putin merasa senang Shell mau memperluas operasinya di Rusia, dan berjanji akan memberikan dukungan penuh. Van Beurden mengatakan kepada Putin bahwa Shell sudah bekerjasama dengan Rusia lebih dari satu abad, dan ingin meneruskan kerjasama tersebut.


(dnl/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

60% Warga Singapura Pakai Transportasi Umum, di Jakarta Baru 13%

Jakarta -Mayoritas penduduk atau sekitar 60% masyarakat di Singapura menggunakan transportasi publik untuk aktivitas sehari-hari. Sedangkan di Jakarta, baru 13% dari total penduduk yang memanfaatkan fasilitas bus TransJakarta, KRL, hingga angkutan umum untuk berpergian.

Tingginya persentase masyarakat Singapura yang menggunakan angkutan umum, karena fasilitas transportasi publik yang tersedia nyaman, aman, cepat, dan murah. Jumlah penduduk di Jakarta saat ini sekitar 10 juta jiwa, sementara di Singapura sekitar 5 juta jiwa.


"Sekarang ini yang menggunakan angkutan umum 13%. Gap-nya tinggi. Maka harus ada pembangunan angkutan massal. Singapura sudah 60%," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta M. Akbar saat diskusi transportasi di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Sabtu (19/4/2014).


Meski persentase pemakaian angkutan umum masih kecil, namun Akbar menjelaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki visi yang menyebutkan 60% warga di DKI Jakarta akan berpergian menggunakan transportasi publik pada tahun 2030. Angka tersebut akan menyamai Singapura.


"Untuk kejar Singapura 16 tahun lagi. Untuk mengejar 60%, pakai angkutan umum," jelasnya.


Untuk mendorong dan memaksa warga DKI Jakarta memakai transportasi publik, Pemprov DKI memiliki beberapa cara. Di antaranya merevitalisasi, mengembangkan, dan mengintegrasikan moda transportasi publik di DKI.


"Kembangkan angkutan umum massal BRT (bus way), MRT dan monorel. Kemudian revitalisasi angkutan jalan non busway," jelasnya.


Jika moda telah tersedia dengan nyaman, aman, terjangkau, dan cepat, maka masyarakat akan bersedia menggunakan moda transportasi. "Kalau hal itu belum tersedia jangan harap orang mau naik angkutan," jelasnya.


Namun belajar dari Singapura, meski telah tersedia MRT, bus, hingga monorel yang baik dan terintegrasi, tetapi masyarakat masih memilih memakai kendaraan pribadi. Alhasil pemerintah memaksa masyarakat berpindah.


"Seandainya MRT hadir ke Jakarta, nggak sekonyong-konyong pindah ke MRT. Motor kan paling cepat di Jakarta karena dia bisa naik trotoar. Bagaimana membuat angkutan pribadi mahal. Ada road pricing jadi dipaksa pindah," jelasnya.


(feb/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Iran Ekspor Minyak 1,2 Juta Barel/Hari, ke Mana Tujuannya?

Teheran -Jumlah minyak yang diekspor Iran saat ini mencapai 1,2 juta barel/hari. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari posisi 8 bulan lalu, saat negara tersebut memilih presiden baru.

Data ekspor ini diambil dari pernyataan pejabat tinggi negara tersebut.


Mansour Moazami, Deputi Kementerian Perminyakan Iran mengatakan, angka ekspor minyak negaranya tersebut 20% di atas target, dan akan terus meningkat angkanya.


"Saat pemerintah baru mulai bekerja, ekspor sekitar 700 ribu barel per hari," ujar Moazami dikutip dari kantor berita Mehr, seperti dilansir AFP, Sabtu (19/4/2014).


"Angka ekspor minyak kami saat ini 20% lebih tinggi dari target, dan kami percaya, angka ini akan terus naik," imbuh Moazimi.


Presiden Iran Hassan Rouhani, yang menggantikan Mahmoud Ahmadinejad pada Juni 2013, mulai memerintah di Agustus. Peningkatan angka ekspor minyak ini terjadi saat Iran dan negara-negara kuat di dunia, bersiap untuk melakukan pertemuan kelima bulan depan untuk membahas kesepakatan terkait program nuklir.


Meski angka ekspor minyak tersebut naik tinggi, namun angka tersebut jauh di bawah sebelum Iran terkena sanksi dari AS dan Eropa terkait program nuklir. Saat itu, atau tepatnya di akhir 2011, angka ekspor minyak Iran mencapai 2,5 juta barel/hari.


Lalu ke mana saja Iran mengekspor minyaknya? Negara tersebut mengekspor minyaknya ke China, India, Korea Selatan, dan Jepang.


Di bawah perjanjian sementara yang ditandatangani November 2013 lalu, Iran setuju untuk menghentikan program nuklirnya untuk 6 bulan. Keputusan ini membuat negara Barat melunak terhadap sanksi-sanksinya.


(dnl/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»