Indonesia Punya 4,4 Juta PNS Tapi Penyebarannya Belum Merata

Jakarta -Penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dilakukan hampir setiap tahun seringkali menjadi sorotan masyarakat. Anggapan paling umum adalah jumlah PNS juga dianggap terlalu banyak sehingga membebani anggaran belanja negara.

Hingga akhir tahun 2013 jumlah PNS di Indonesia telah mencapai 4,46 juta orang. Sayang kehadirannya hanya di rasakan di tempat-tempat tertentu. Di berbagai daerah perbatasan nan terpencil, keberadaan PNS bisa dikatakan tidak terasa.


Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Suwardi mengatakan masalah utama terkait hal ini terutama dikarenakan sebaran PNS yang tidak merata.


"Permasalahan di kita itu adalah masalah sebarannya, pemerataannya. Itu yang kurang dari penyediaan PNS kita terdahulu," katanya kepada detikFinance akhir pekan lalu.


Ia mengatakan, terkait persoalan itu pemerintah pun tidak tinggal diam. Pada masa penerimaan PNS tahun ini, panitia seleksi nasional (Panselnas) mewajibkan para kepala instansi untuk mencantumkan rincian tugas dan penempatan PNS yang akan direkrut.


Dengan adanya pola penerimaan ini diharapkan tidak ada lagi penempatan PNS yang tidak tepat sasaran.


"Jadi tidak ada lagi asal sebut butuh PNS 10 orang tapi ternyata semua ditempatkan di pusat. Saat ini yang banyak itu PNS di Provinsi, yang di Kabupaten sangat jarang. Apa lagi yang di pelosok-pelosok itu bisa dikatakan tidak ada," tandasnya.


(ang/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Dikira Mahal, Kabel Serat Optik Telkom Jadi Sasaran Maling

Jakarta -Aksi pencurian terhadap fasilitas infrastruktur milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih sering terjadi. Seperti kasus terbaru yakni pencurian infrastruktur jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) milik PLN di Garut atau perusakan jaringan pipa minyak Pertamina di Subang.

Aksi pencurian atau perusakan juga menimpa jaringan telekomunikasi milik PT Telkom Tbk. OSM Communication PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Pujo Pramono mengakui jaringan kabel optical fiber milik perseroan beberapa kali pernah dicuri. Umumnya peritiwa tersebut terjadi pada kawasan hutan atau daerah perbatasan antar kota yang sepi penduduk.


"Mereka mengira bisa jual kabel tembaga. Dipotong 10 meter terus dijual. Padahal itu hanya kabel fiber optic. Itu nggak bisa dikilokan dan mereka salah duga," kata Pujo kepada detikFinance, Jumat (25/8/2014).


Peristiwa pencurian jaringan atau perusakan fasilitas telekomunikasi umumnya terjadi di luar Jawa. Meski demikian, Telkom memiliki sistem atau prosedur keamanan untuk menjaga fasilitas miliknya. Jika terjadi pencurian pada jaringan kabel optic fiber, dalam waktu sekejab langsung diketahui.


"Kalau ada kabel tercuri langsung ada alarm. Titiknya di mana ketahuan," sebutnya.


Jika terjadi pencurian, Pujo membenarkan akan muncul gangguan layanan. Namun Telkom juga memiliki jaringan cadangan atau back up sebagai solusi.


"Ya gangguan traffic-nya," jelasnya.


Pujo menjelaskan untuk tahun 2014 ini, praktis kantor pusat belum menerima laporan terkait aksi pencurian atau vandalism terhadap fasilitas milik perseroan.


"Tahun lalu ada cuma nggak banyak. Kalau tahun ini belum ada laporan," sebutnya.


(feb/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Menelusuri Jembatan dan Terowongan Bawah Laut Penghubung Denmark-Swedia

Almhult -Sejak 14 tahun silam, tepatnya 1 Juli 2000, dua negara di Skandinavia yaitu Denmark dan Swedia dihubungkan oleh infrastruktur canggih, yaitu terowongan bawah laut, dan jembatan di atas laut.

Infrastruktur ini, membuat jarak kota Kopenhagen yang jadi ibu kota Denmark, dengan kota Malmo di Swedia bisa ditempuh menggunakan mobil dengan waktu kurang dari 30 menit.


detikFinance berkesempatan menelusuri infrastruktur ini, saat akan berkunjung ke Almhult, Swedia yang memang lokasinya lebih dekat dari Kopenhagen.


Pada Minggu (24/8/2014), pengemudi bus yang membawa rombongan kami mengumumkan bajwa kami akan melewati terowongan bawah laut yang fenomenal.


Seketika saja, bus masuk ke terowongan berkilometer dan keluar di jembatan atas laut yang cukup panjang.


Terowongan bawah laut ini memiliki panjang sekitar 4 kilometer, sementara jembatan bernama Oresund ini memiliki panjang 8 kilometer. Di bawah jembatan ini juga terdapat rel kereta api.


Lantas berapa tarif yang harus dibayar untuk melewati jembatan dan terowongan ini?


Di gerbang tol terlihat, untuk sebuah mobil harus membayar 49 euro. Itu berarti bila dirupiahkan sekitar Rp 700 ribu untuk sekali jalan.


Motor juga bisa melewati jembatan dan terowongan ini. Tarif yang dikenakan untuk motor adalah 25 euro atau sekitar Rp 375 ribu.


Sementara untuk bus, tarif yang dikenakan adalah 227 euro, atau bila dirupiahkan sekitar Rp 3,4 juta.





(dnl/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Jumlah PNS Makin Gemuk Dalam 10 Tahun Terakhir

Jakarta -Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) sampai dengan akhir 2013 adalah 4,46 juta orang. Dalam kurun waktu 10 tahun pertumbuhannya mencapai 22,47% dengan laju pertumbuhan rata-rata 1,63%.

Kenaikan tertinggi terjadi pada periode 2008 menuju 2009 dengan kenaikan mencapai 10,8%.


"Ini karena adanya kebijakan pengangkatan PNS dari tenaga honorer dan sekretaris desa," ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Suwardi kepada detikFinance akhir pekan lalu.


Hal berbeda justru terjadi pada tahun 2010 hingga tahun 2013, di mana terjadi penurunan jumlah PNS. Pada akhir tahun 2010 tercatat jumlah PNS telah mencapai 4,59 juta orang. Pada 2011 jumlahnya menjadi 4,52 juta orang. Sementara pada 2012 sebesar 4,46 juta orang dan pada 2013 turun tipis sekitar 1000 orang.


Artinya telah terjadi penurunan 2,8% selama kurun waktu tersebut dengan rata-rata penurunan pertahun sebesar 0,7%.


"Ini karena ada kebijakan moratorium. Pada masa itu, pemerintah menghentikan perekrutan PNS. Jadi jumlahnya terus menurun karena tergerus mereka yang pensun tapi tidak ada PNS baru yang masuk," tambahnya.


Pada tahun 2011 PNS yang mencapai usia pensiun sebanyak 107.418 orang. Kemudian pada 2012 sebanyak 124.175 orang dan pada 2013 jumlah yang memasuki masa pensiun sebanyak 123.167.


Sayang, moratorium yang dikalukan belum cukup ampuh membentuk komposisi PNS yang lebih proporsional. Hal ini tercermin dari masih banyaknya jumlah PNS berpendidikan rendah dibanding PNS berpendidikan tinggi.


Bahkan pada tahun 2013 porsi PNS berpendidikan SD masih cukup besar mencapai 1,58%, lebih besar dibanding dengan PNS berpendidikan S-3 yang hanya 0,21%.


(ang/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Dahlan Iskan: Agar Aset Rp 30 Triliun Tidak Mubazir

Jakarta -"Tempeeeeeeeee...!!!" Teriak puluhan karyawan di depan pabrik saat mereka berfoto bersama saya. Pada foto itu nanti pasti terlihat wajah mereka yang ceria dengan bentuk mulut yang lucu.

Saya mengunjungi PT Kertas Kraft Aceh (KKA) di Arun pekan lalu. Para karyawan menyambut dengan penuh kegembiraan. Minta foto bersama. Hari itu upaya mereka menghidupkan kembali PT KKA menampakkan hasil awalnya.


Dua turbin yang sudah lebih 15 tahun mangkrak, bisa hidup kembali. Listrik 16 MW bisa dijual ke PLN. Perusahaan mulai mendapat penghasilan. PLN mendapat tambahan listrik.


Kondisi KKA sudah sedikit berbeda dibanding saat saya mengunjunginya dua tahun lalu. Waktu itu suasanya senyap. Tidak ada kehidupan. Di mana-mana terlihat bagian-bagian pabrik yang reot dan tidak terpelihara.


Kini pabrik kertasnya memang belum hidup, tapi pembangkit listriknya sudah mulai memberi hasil. "Pabrik ini sudah mulai bersuara," ujar Andriano, Dirut KKA.


Untuk menghidupkan pabriknya sendiri masih perlu waktu. Menunggu penyelesaian hutan tanaman industri (HTI) yang juga sudah lebih 15 tahun berhenti produksi. Hutan itu dimiliki bersama antara perusahaan milik Pak Prabowo Subianto (60%) dan BUMN PT Inhutani IV (40%).


Kami masih harus merundingkannya agar bisa dikelola lebih baik. Untuk bisa menjadi sumber bahan baku bagi KKA. Next


(ang/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Harga Elpiji 12 Kg Disiapkan Naik 5 Kali Hingga 2016

Jakarta -PT Pertamina (Persero) akan terus menaikkan harga elpiji 12 Kg secara bertahap hingga 2016 demi mencapai harga keekonomian. Rencananya, sejak ada kenaikan harga di awal 2014, harga elpiji 12 Kg akan naik lagi hingga 5 kali.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir mengatakan, pihaknya akan terus melakukan kenaikan harga elpiji 12 Kg hingga mencapai harga keekonomian. Langkah ini dilakukan untuk menghapus kerugian Pertamina akibat menjual elpiji 12 Kg di bawah harga keekonomian alias harus nombok.


"Selama ini kan kita jual rugi. Kita akan naikkan bertahap hingga tahun 2016, kemungkinan masih akan ada 5 kali lagi kenaikan sampai menuju harga keekonomian," ujar Ali kepada detikFinance, Minggu (31/8/2014).


Ia menghitung, dengan menaikkan harga jual elpiji 12 Kg sebesar Rp 1.000, ada potensi bisa menekan kerugian hingga Rp 80 miliar per bulan. Hal ini tentunya memberikan keringanan kepada Pertamina untuk bisa memperbaiki kinerja perseroan.


"Selama ini kan kita menjual di bawah harga, sehingga ada potensi kerugian Rp 6 triliun per tahun. Misalnya dengan menaikkan harga elpiji 12 Kg, Rp 1.000 maka ada potensi menekan angka kerugian hingga Rp 80 miliar per bulan," katanya.


Ali menjelaskan, secara bertahap kenaikan harga elpiji 12 Kg akan terus dilakukan hingga pertengahan 2016. Diperkirakan pada 2016, harga keekonomian elpiji 12 Kg bisa tercapai sehingga kerugian Pertamina bisa ditutupi.


"Kita memberikan usulan kenaikan Rp 1.000-Rp 1.500 per Kg tapi ya itu tadi koordinasi dulu dengan pemerintah. Tergantung hasil pembicaraan gimana, nggak ada target. Kita masih nunggu rakor dengan tim Kemenko," katanya.Next


(drk/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Rencana Naikkan Harga Elpiji 12 Kg, Pertamina Tunggu 'Lampu Hijau' Pemerintah

Jakarta -PT Pertamina (Persero) berencana menaikkan harga elpiji 12 Kg sebesar Rp 1.000 - Rp 1.500 per Kg. Rencana kenaikan ini masih menunggu pembahasan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, pihaknya perlu melakukan koordinasi bersama pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator Perekonomian untuk menentukan besaran kenaikan harga elpiji 12 Kg.


"Belum ada kepastian. Sekarang kita mau koordinasikan dulu dengan Menko terkait besaran dan kapan waktunya jadi belum diputuskan,” kata Ali kepada detikFinance, Minggu (31/8/2014).


Ali menjelaskan rencana menaikkan harga elpiji 12 Kg ini merupakan murni aksi korporasi demi memperbaiki kinerja perseroan. Pihaknya mengusulkan kenaikan harga elpiji 12 Kg di kisaran angka Rp 1.000 - Rp 1.500 per Kg. Opsi menaikkan harga elpiji 12 Kg tersebut sebagai salah satu langkah Pertamina menekan kerugian akibat menjual elpiji 12 Kg di bawah harga keekonomian.


"Kita memberikan usulan kenaikan Rp 1.000 -Rp 1.500 tapi ya itu tadi koordinasi dulu dengan pemerintah. Tergantung hasil pembicaraan gimana, nggak ada target. Kita masih nunggu rakor dengan tim Kemenko. Kenaikan elpiji ini murni aksi korporasi, kita hanya ingin mendengarkan masukan dari pemerintah," kata Ali.


Ali menyebutkan, penjualan di bawah harga keekonomian itu membuat tingginya potensi kerugian Pertamina sebesar Rp 6 triliun per tahun. Hingga semester I-2014, kerugian Pertamina dari menjual gas elpiji 12 Kg mencapai Rp 2,81 triliun.


"Selama ini kan kita menjual di bawah harga sehingga ada potensi kerugian Rp 6 triliun per tahun. Total kerugian hingga semester I-2014 Rp 2,81 triliun,” kata Ali.


(drk/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»