OJK Ingin Nasabah Asuransi Dapat Jaminan Seperti di Bank

Jakarta -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah mengkaji untuk memberikan perlindungan kepada nasabah asuransi seperti yang dilakukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terhadap nasabah perbankan.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti Soetiono mengatakan, perlindungan tersebut akan dilakukan OJK dalam bentuk pengawasan kepada nasabah asuransi melalui perluasan kewenangan LPS.


Saat ini, LPS hanya menangani perlindungan kepada nasabah perbankan apabila mengalami kerugian seperti hilangnya dana nasabah karena si perusahaan bangkrut dan sejenisnya.


Nah, melalui UU Usaha Perasuransian yang baru, OJK meminta kepada pemerintah dan DPR untuk bisa memperluas kewenangan LPS untuk melindungi nasabah asuransi.


"Kemungkinan itu akan memperluas kewenangan LPS yang ada saat ini. Kalau disetujui, tidak akan membentuk lembaga sendiri. Nanti, perlindungan nasabah pembayar premi asuransi akan sama seperti penyimpan dana di bank," ujarnya seperti dikutip Sabtu (18/1/2014).


Kusumaningtuti menyebutkan, untuk mencapai itu perlu adanya dukungan dari pemerintah dan DPR berupa pengesahaan UU Usaha Perasuransian sebagai payung hukum.


Saat ini, UU tersebut masih dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) yang masih 'ngetem' di DPR untuk disetujui.Next


(drk/dru)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Pelindo III-Van Oord BV Belanda Kerjasama Garap Pelabuhan

Den Haag -PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III melalui anak perusahaannya, PT Pelindo Marine Service (PMS), menjalin kerjasama dengan Van Oord Dredging and Marine Contractor B.V. yang berpusat di Rotterdam, Belanda, membentuk PT Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

Penandatanganan nota kesepahaman kerjasama berlangsung di Aula KBRI Den Haag, disaksikan oleh Dubes RI untuk Kerajaan Belanda Retno LP Marsudi dan Sekjen Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Belanda Siebe Riedstra, Jumat (17/1/2014).


Keterangan pers KBRI Den Haag menyebutkan, kesepakatan kerjasama itu dituangkan dalam nota kesepahaman dalam 3 bagian yaitu: side letter yang ditandatangani oleh Dirut PT Pelindo III Djarwo Surjanto, Dirut PT PMS Chairoel Anwar, dan Anggota Dewan Eksekutif Van Oord DMC BV Neils de Bruijn.


Kemudian joint venture agreement dan shareholders agreement yang keduanya ditandatangani oleh Dirut PT PMS dan Anggota Dewan Eksekutif Van Oord DMC BV.


Sesuai perjanjian kerjasama tersebut, anak perusahaan PT Pelindo III dan Van Oord tersebut nantinya akan bergerak di bidang pengembangan dan pengelolaan alur pelayaran, khususnya di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.


"PT APBS akan memegang peran penting dalam menunjang Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pintu gerbang ekonomi Provinsi Jawa Timur dan wilayah Indonesia Timur guna mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur hingga 7-8% di tahun 2014," ujar Dirut Pelindo III Djarwo Surjanto dalam sambutannya.


Sedangkan CEO Van Oord DMC BV Pieter van Oord menyampaikan bahwa perusahaannya telah memiliki sejarah kerjasama yang panjang dengan dengan Pelabuhan Tanjung Perak, di mana Van Oord turut berpartisipasi dalam pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak pada tahun 1911-1925. Next


(es/es)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Inalum Genjot Produksi Alumunium

Medan -Kondisi permukaan air Danau Toba, Sumatera Utara yang stabil berpengaruh positif pada rencana produksi alumunium oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Pasokan listrik yang stabil dapat meningkatkan produksi lebih tinggi dari biasanya.

Direktur Utama PT Inalum Sahala Hasoloan Sijabat menyatakan saat ini air permukaan danau berada pada level 904,88 meter dari permukaan laut (mdpl). Dengan kondisi ini, maka delapan turbin pembangkit listrik Sigura-gura dapat memasok listrik dengan sempurna.


"Inalum dapat meningkatkan level produksi alumunium batangan atau ingot," kata Sijabat kepada wartawan di Medan, Jumat (17/1/2014).


Menurut Sijabat, pada periode April hingga Desember 2013 lalu Inalum memproduksi 191.821 ton alumunium, dan rencananya akan memproduksi 255.237 ton alumunium hingga Maret 2014.


"Pencapaian ini merupakan salah satu yang tertinggi yang diperoleh Inalum," kata Sijabat.


Peningkatan pencapaian produksi merupakan bagian dari kinerja yang ingin dicapai Inalum sejak perusahaan ini berubah status menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Secara bertahap produksi alumunium akan ditingkatkan dari 260.000 ton per tahun menjadi 650.000 ton.


"Dengan cara penambahan pembangunan tungku, pembangkit listrik dan sarana penunjang lainnya," kata Sijabat.


(rul/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

4 Tantangan Perbankan Tahun Ini Versi OJK

Jakarta -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan berbagai upaya pembenahan dan penguatan di industri jasa keuangan, salah satunya di sektor perbankan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan, setidaknya ada empat faktor utama yang akan mewarnai perkembangan dan pertumbuhan industri perbankan yang masih perlu dukungan kebijakan yang tepat.


Faktor pertama, yaitu konsumen produk jasa keuangan akan menuntut layanan yang lebih cepat, fleksibel dengan produk yang semakin variatif.


"Termasuk interchangebility dari instrumen kredit dengan instrumen pasar uang dan pasar modal," ujar Muliaman dalam acara Annual Financial Executive Gathering OJK 2014, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (17/1/2014).


Faktor kedua, adalah perbankan harus siap meningkatkan penyaluran kredit investasi terutama di sektor manufaktur, energi dan infrastruktur dalam rangka memperbaharui dan merevitalisasi kapasitas perindustrian.


"Ini dapat menghasilkan produk-produk dengan nilai tambah tinggi," katanya.


Faktor ketiga, Muliaman menyebutkan, perubahan landscape regulasi industri perbankan yang menuntut reformasi yang komprehensif mencakup antara lain struktur permodalan, likuiditas, governance dan sekuritas guna menurunkan probilitas kegagalan institusi.


Faktor yang keempat, integrasi sektor perbankan ASEAN di tahun 2020.


"Untuk mengantisipasi hal tersebut, kami akan memperjelas arah kegiatan usaha perbankan dan meningkatkan daya saing agar dapat memanfaatkan pasar ASEAN," pungkasnya.


(drk/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

OJK Kumpulkan 700 Pelaku Industri Keuangan

Jakarta -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) malam ini mengumpulkan para pelaku industri jasa keuangan di Indonesia dari sektor perbankan maupun pasar modal. Sedikitnya 700 undangan menghadiri agenda tahunan ini.

"Ini acara rutin tahunan OJK di setiap awal tahun. Undangan 700," kata Humas OJK Doddy Ardiansyah kepada detikFinance dalam acara kegiatan Annual Financial Executive Gathering OJK 2014, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (17/1/2014).


‎​Pertemuan ini digelar dalam rangka memberikan pandangan dan arahan kepada pelaku industri jasa keuangan. Hadir dalam acara ini para dewan komisioner dan jajaran OJK, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), dan para bankir.


Nampak hadir antaralain Dirut BEI Ito Warsito, Dirut Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja, dan bankir lainnya.


Dari jajaran Dewan Komisioner OJK terlihat hadir Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Sebagai Ketua Komite Etik Rahmat Waluyanto, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Merangkap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Nurhaida dan Anggota Dewan Komisioner OJK Merangkap Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Firdaus Djaelani dan lainnya.


(drk/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Mobil-Mobil Ini Langka Sekaligus Mahal


http://us.images.detik.com/content/2014/01/17/4/180953_ppmki21.jpg

Jakarta - Seperti hobi-hobi lainnya, mobil klasik pun punya jenis-jenis yang menjadi incaran para kolektornya. Mobil-mobil ini sulit didapatkan dan jika ada, bernilai sangat tinggi.

Bagi Dharma Adsasmuda, pemilik Kedai Vintage, ada beberapa janis mobil klasik yang sangat diidamkannya. “Cita-cita saya adalah punya mobil Merceds-Benz yang lebih tua dari keluaran 1936. Itu susah sekali didapat,” katanya.


Untuk mendapatkannya, lanjut Dharma, harus dari luar negeri dan itu pun tidak mudah. Ini karena mobil-mobil Mercy tersebut menjadi korban keganasan Perang Dunia I. "Kalau dari pusatnya di Jerman, pasti sudah hancur. Paling bisa didapatkan di Amerika Serikat atau Turki, itupun langka,” ujar Dharma.


Jika Dharma ingin Mercy, kira-kira mobil apa lagi yang dianggap langka dan harganya selangit? Berikut di antaranya:



readmore »»  

Nyam! Jualan Molen Arab Bisa Raup Omzet Rp 100 Juta/Bulan

Jakarta -Meskipun usahanya belum genap setahun, namun omzet makanan bernama 'Molen Arab' yang dijual oleh Syaiful Burhan sudah mencapai Rp 100 juta/bulan. Padahal usaha ini diawali karena terdesak harus membayar uang kost.

Seperti diketahui, 'Molen Arab' ini merupakan pisang molen atau pisang yang diselimuti adonan tepung, namun bedanya ukurannya sangat besar. "Nama Molen Arab karena bentuknya besar, jadi saya beri nama Molen Arab," ujar Syaiful dalam acara Wirausaha Muda Mandiri di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (17/1/2014).


Usaha Molen Arab ini dimulai Syaiful pada April 2013 untuk membayar uang kost karena malu meminta kepada orangtua. "Tapi karena uang saya juga mepet, saya terpaksa untuk meminta uang ke orangtua untuk bayar kost. Dalam hati saya berkata, saya tidak mungkin untuk selalu minta uang ke orang tua. Akhirnya uang untuk bayar kost saya putar dulu untuk memulai usaha," kata Syaiful.


Remaja berusia 20 tahun ini merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Usaha Molen Arab ini dimulainya di wilayah Medan. Syaiful mengaku, pisang molen merupakan salah satu makanan kesukaannya. Namun dia ingin membuat pisang molen berukuran besar yang kenyang sekali makan.


"Resep saya cari dulu di internet kemudian saya modifikasi sendiri. Sempat 5 kali gagal dalam percobaan. Begitu hasilnya lumayan, saya langsung produksi 50 buah dan saya jual ke teman kampus. Dalam waktu kurang dari 1 jam habis!" tutur Syaiful.


Modal awal Syaiful mendirikan usahanya adalah Rp 1,8 juta dengan 3 orang pegawai. Dalam seminggu, produksi Molen Arab mencapai 400 buah yang laris manis. Bahkan pada Mei 2013 lalu, Syaiful sudah bisa membayar gaji pegawai, kost, dan membeli motor sendiri secara tunai.


Bulan kedua, lanjut Syaiful, dirinya berani menjalankan sistem agen untuk menjual Molen Arab, dan bisa memproduksi 1.000 buah per hari, hingga omzetnya Rp 100 juta per bulan.


"Saat ini saya sudah total ada 16 pegawai. Dan pada bulan Februari besok sudah ada 26 orang karyawan yang sudah siap membantu dan mengembangkan Molen Arab. Sementara ini masih kami jual di Medan, tapi nanti akan saya kembangkan ke yang lain juga. Sekarang fokus dulu di Medan," cetusnya.


Apa yang jadi kunci sukses Syaiful dalam mengembangkan usahanya?


"Kunci sukses saya adalah jangan menyerah dan harus berani mencoba hal baru. Saya sendiri kelahiran di Jawa kemudian besar di Papua, kemudian sekolah SMP dan SMA di Bogor. Sekarang saya kuliah di USU Medan. Daru kelas 2 SD saya sudah jauh dari orangtua. Sekarang orangtua saya ada di Papua sementara saya di Medan. Semua usaha itu harus diawali dengan nekad dulu. Dan tentunya berani mengorbankan yang lain," papar Syaiful bersemangat.


(dnl/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»