Cerita Sampah Baju Malaysia yang Laku Dijual di RI

Jakarta -Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat, volume penangkapan baju bekas impor asal Malaysia dan Singapura meningkat 500% sepanjang semester I-2014, dibandingkan 2013 lalu. Pada 2013 jumlah kasus tangkapan baju bekas impor mencapai 95 tangkapan dengan nilai Rp 622 juta. Sedangkan pada periode Januari-Mei 2014 saja, jumlah kasus tangkapan mencapai 82, senilai Rp 3,1 miliar.

Kepala Seksi Layanan Informasi, Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok, Iwan Agung Kusuma mengungkapkan, di negara asalnya yaitu Malaysia, pakaian ini sudah dalam status dibuang atau sampah.


"Di Malaysia pakaian ini sudah dibuang ke tempat pembuangan sampah garmen yang ada di Jalan Toko Mangga, Malaka," kata Iwan kepada detikFinance, Sabtu (5/07/2014).


Kemudian, sampah garmen tersebut dipilih yang masih layak pakai oleh orang Indonesia yang berada di Malaysia. Setelah dipilih-pilih, sampah garmen tersebut dikemas rapi, lalu dikirim ke Indonesia secara ilegal dengan kapal laut.


"Orang kita juga yang ngumpulin sampah garmen itu. Kemudian barang diambil setelah itu dikemas, kemudian dikirim dan dimasukan ke Indonesia," tuturnya.


Sampah garmen di Malaysia yang tidak diambil oleh orang Indonesia kemudian dibakar oleh petugas kebersihan di sana. Pola ini yang sama dilakukan di negara Singapura.


"Paling banyak masuk ke Batam dan Dumai. Di Singapura juga sama seperti itu," cetusnya.


(wij/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Bea Cukai: Banyak Orang Indonesia yang Suka Baju Bekas Impor

Jakarta -Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan mengakui maraknya baju bekas impor ilegal asal Malaysia dan Singapura. Salah satu alasannya karena banyaknya pintu masuk yang tidak bisa diketahui petugas Bea Cukai.

"Permintaannya banyak. Ada bahkan di Pasar Senen saja banyak. Yang dijual termasuk barang-barang itu. Mungkin ada yang lolos karena banyaknya pintu masuk di daerah perbatasan itu setiap hari ratusan kapal bolak-balik," kata Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat malam (4/7/2014).


Alasan lainnya adalah, jumlah pegawai pengawas pintu masuk Bea Cukai masih sedikit, dibandingkan kebutuhan penjagaan dan pengawasan itu sendiri. Oleh karena itu, Agung meminta ada tambahan pegawai Bea dan Cukai tahun ini selain bekerja sama dengan Aparat Kepolisian dan TNI.


"Bea Cukai sebenarnya ada di pintu masuk itu tetapi jumlah pegawai dan semakin banyaknya barang masuk. Jalan tikusnya banyak. Total pegawai Bea Cukai 10.665. Jumlah Pulau kita 17.000 pulau banyakan pulaunya. Perlu ada tambahan pegawai dan ini kita lakukan rekrutmen. Paling tidak tahun lalu dapat 800 sekarang 1.200 pegawai tahun depan nambah lagi. Semoga semakin kuat pengawasan," tuturnya.


Selain itu, Bea dan Cukai juga akan mengoptimalkan serta memperkuat armada kapal laut pengawas. Tahun ini akan ada tambahan kapal laut pengawasan Bea Cukai dari total yang ada saat ini secara keseluruhan mencapai 85 unit.


Seperti diketahui, tren penyelundupan baju bekas impor mengalami peningkatan. Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat volume penangkapan baju bekas impor meningkat 500%.


Sesuai data Bea Cukai, di 2013 jumlah kasus tangkapan baju bekas impor sebanyak 95 tangkapan dengan nilai Rp 622 juta. Sedangkan pada periode Januari hingga Mei 2014 saja, jumlah kasus tangkapan sudah mencapai 82 dengan volume Rp 3,1 miliar.


(wij/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Ini Daerah Tempat Masuk Baju Bekas Impor Ilegal Malaysia dan Singapura

Jakarta -Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan mengakui kewalahan menjaga celah masuk pintu pelabuhan tikus di Indonesia. Hal ini menyebabkan tren penyelundupan baju bekas impor ilegal asal Malaysia dan Singapura meningkat.

Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono mengungkapkan, ada beberapa pintu masuk yang diduga menjadi tempat masuk baju bekas impor ilegal.


"Selat Malaka, jalur Nunukan, Tarakan, Pare-pare," sebut Agung saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat malam, (4/07/2014).


Menurut Agung, modus penyelundupan baju bekas impor terlebih dahulu dilakukan pengemasan yang rapi, dengan menggunakan kardus. Cara itu dilakukan untuk mengelabui para petugas jaga pelabuhan.


Kemudian kardus berisi baju bekas impor dipindahkan ke kapal kecil, lalu dimasukan ke Indonesia melalui pelabuhan tikus yang ada.


"Baju bekas ini selundupannya pakai kapal lewat jalur-jalur tadi," imbuhnya.


Agung menjelaskan, meningkatnya tren penyelundupan baju bekas impor ilegal dari Malaysia dan Singapura disebabkan permintaan yang cukup besar di dalam negeri. Padahal, baju bekas impor ilegal belum tentu aman digunakan, karena diduga ada penyakit dan kuman yang masih ada di dalam baju bekas tersebut.


"Permintaannya cukup banyak. Volume tangkapan jelang lebaran trennya relatif sama dari waktu ke waktu," cetusnya.


Seperti diketahui, tren penyelundupan baju bekas impor mengalami peningkatan. Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat volume penangkapan baju bekas impor meningkat 500%.


Sesuai data Bea Cukai, di 2013 jumlah kasus tangkapan baju bekas impor sebanyak 95 tangkapan dengan nilai Rp 622 juta. Sedangkan pada periode Januari hingga Mei 2014 saja, jumlah kasus tangkapan sudah mencapai 82 dengan volume Rp 3,1 miliar.


(wij/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Kedaulatan Pangan Harus Jadi Fokus Debat Prabowo-Jokowi

Jakarta -Calon presiden (capres) malam ini kembali menjalani debat kandidat sesi terakhir. Tema yang akan dibahas salah satunya sektor pangan dan energi. Kedua sektor ini sangat penting karena menentukan keberlangsungan hidup suatu bangsa.

Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sutrisno Iwantono mengatakan, kedaulatan pangan harus menjadi fokus dalam debat nanti malam. Pengertian kedaulatan pangan harus dipahami oleh para capres.


"Kedaulatan pangan adalah tersedianya pangan bagi masyarakat dalam jumlah cukup, waktu yang tepat, harga yang terjangkau, di lokasi yang mudah diakses, dan harus dipenuhi dari dalam negeri," kata Iwantono kepada detikFinance, Sabtu (5/7/2014).


Iwantono mengatakan, kedua capres harus memaparkan apa konsepnya untuk mewujudkan ketahanan pangan. "Kalau ketahanan pangan, tidak boleh berasal dari impor dari negara lain," ucapnya.


Iwantono menyatakan, petani harus bisa hidup layak dari usaha taninya. Jika tidak, maka petani akan pindah ke sektor lain dan produksi pangan dalam negeri tidak akan pernah mencukupi.


Menurutnya, untuk menjamin kesejahteraan petani, ada 2 hal yang harus diwujudkan yaitu penurunan biaya produksi dan harga jual harus layak.


"Kalau biaya produksi turun dan harga produk layak, maka petani akan menikmati margin usaha. Ini akan mewujudkan kesejahteraan petani," tutur Iwantono.Next


(hds/rrd)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Banyak Penyelundupan, Bea Cukai Ingin Punya Alat Sekelas James Bond

Jakarta -Tingkat penyelundupan barang yang berhasil ditangkap Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berbagai cara dilakukan Bea Cukai, seperti menambah jumlah pegawai dan memperkuat armada pendukung.

Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono bahkan bermimpi memiliki alat canggih, seperti yang ada di dalam film James Bond. Alat canggih ini nantinya diharapkan akan membantu pihaknya menggagalkan praktik penyelundupan. Sayangnya hal itu sulit dilakukan karena keterbatasan dana.


"Bea Cukai inginnya kayak di James Bond itu (peralatan canggih) tetapi anggaran kita terbatas," kata Agung saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat malam (4/7/2014).


Tahun ini anggaran Bea Cukai dialokasikan Rp 2,7 triliun dari sebelumnya Rp 2,8 triliun atau mengalami pemotongan Rp 100 miliar. Sehingga dengan dana yang terbatas ini, Bea Cukai hanya mampu membeli kapal laut yang digunakan untuk mengawasi laut Indonesia 24 jam.


"Kami lagi beli kapal sekarang. Kami ini sedang membangun kapal baru yang 86 dan 60 meter. 60 meter kita punya 2 dan 86 nambah 10 lagi. Dan ini untuk patroli. Kita hanya punya 85 kapal. Jumlah itu cukup kurang tetapi kita berdayakan," imbuhnya.


Sedangkan dari sisi pegawai, Bea Cukai meminta tambahan 1.200 pegawai tahun ini. Ribuan pegawai baru Bea Cukai akan ditempatkan di beberapa tempat yang mempunyai tingkat resiko penyelundupan tinggi.


"Kalau mau nambah kapal 100 tambah juga pegawainya," jelasnya.


Menurut data Bea Cukai, penindakan yang berhasil dilakukan pada periode Januari hingga Mei 2014 sebanyak 1.748 kasus dengan total nilai Rp 34,25 miliar. Jumlah ini menurun dibandingkan periode yang sama di tahun 2013 dengan jumlah kasus 2.021 dengan nilai Rp 175,49 miliar.


Kasus tertinggi penyelundupan masih ditempati oleh obat-obatan dan bahan kimia sebanyak 108 kasus diikuti penyelundupan tekstil dan produk tekstil sebanyak 82 kasus.


(wij/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Pertamina: Kalau Harga Naik, Konsumsi BBM Pasti Turun

Jakarta -Anggaran subsidi BBM tahun ini tembus Rp 246 triliun. Konsumsinya tiap tahun terus meningkat. Untuk menekannya, salah satu cara paling efektif adalah menaikkan harga.

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Hanung Budya mengatakan, faktanya kenaikan harga BBM subsidi Juni tahun lalu terbukti efektif menekan konsumsi BBM subsidi.


"Salah satu contohnya pada konsumsi premium, di mana konsumsi premium pada 2012 tumbuh 10,7% dibandingkan konsumsi 2011, namun pada 2013 konsumsi premium turun, karena hanya tumbuh 3,6%," ujar Hanung dalam pesan singkatnya, Sabtu (5/7/2014).


Hanung mengatakan, konsumsi BBM tiap tahun pasti meningkat, namun pertumbuhannya dapat ditekan dengan naiknya harga BBM subsidi.


"Variabel harga sangat menentukan, naiknya harga BBM subsidi membuat orang menghemat. Konsumsi BBM tiap tahun pasti meningkat, tapi pertumbuhannya yang dapat ditekan, karena tiap tahun jumlah kendaraan bertambah, tahun ini sepeda motor nambah sekitar 7,8 juta unit dan mobil tambah 1 juta unit," ungkapnya.


Turunnya konsumsi BBM subsidi, tentunya akan berdampak langsung pada turunnya subsidi BBM yang dikeluarkan negara. Namun akankah presiden selanjutnya berani mengambil keputusan menaikkan harga BBM subsidi?


Sebelumnya pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, tidak ada cara paling efektif untuk mengurangi subsidi BBM selain menaikkan harga BBM subsidi.


"Mau cari cara sampai ke surga pun, cara paling efektif adalah hanya dengan menaikkan harga BBM subsidi," kata Faisal.


(rrd/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Bea Cukai: Baju Bekas Impor Itu Sampah!

Jakarta -Penyelundupan baju bekas dari Malaysia dan Singapura meningkat cukup signifikan dalam 6 bulan di tahun ini. Dibandingkan tahun lalu, tren penyelundupan baju bekas tahun ini meningkat hingga 500%.

Dirjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan Agung Kuswandono menegaskan, baju bekas impor dari negara tetangga tidak layak pakai dan seperti sampah.


"Itu kan sampah," ungkap Agung saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat malam (4/7/2014).


Selain tidak layak pakai, Agung berpendapat, baju bekas yang diimpor belum tentu aman digunakan. Pasalnya disinyalir adanya kuman atau penyakit dari sisa si pemakai negara asal.


"Ini masalah harga diri bangsa. Masa bahan bekas orang kita pakai. Kemudian apakah kita yakin itu bebas kuman," imbuhnya.


Kemudian yang menjadi masalah selanjutnya adalah, terganggunya industri produksi pakaian di dalam negeri. Menurut Agung, dengan banyaknya baju bekas impor di pasaran, maka produk tekstil yang dibuat di dalam negeri tidak laku karena selisih harga yang cukup jauh.


"Makanya itu dilarang. Jadi kita menjalankan aturan itu. Masalah utama dari pelarangan karena industri di dalam negeri terutama garmen pasti tergangggu," kata Agung.


Seperti diketahui, tren penyelundupan baju bekas impor mengalami peningkatan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat volume penangkapan baju bekas impor meningkat 500%.


Sesuai data Bea Cukai, di 2013 jumlah kasus tangkapan baju bekas impor sebanyak 95 tangkapan dengan nilai Rp 622 juta. Sedangkan pada periode Januari hingga Mei 2014 saja, jumlah kasus tangkapan sudah mencapai 82 dengan volume Rp 3,1 miliar.


(wij/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»