Apa Kabar Menara Saidah? Perkantoran Tak Berpenghuni di Jakarta

Jakarta -Masih ingat dengan Menara Saidah? gedung perkantoran elit tak berpenghuni di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur. Gedung setinggi 28 lantai ini sedang mengalami pemugaran dan renovasi besar-besaran.

"Sedang direnovasi, di depan sudah dicat sedikit," ungkap salah seorang petugas keamanan gedung yang tidak mau disebutkan namanya kepada detikFinance, Jumat (1/08/2014).


Menara Saidah adalah salah satu gedung tertinggi di kawasan MT Haryono. Gedung ini punya sejarah panjang awalnya dibangun selama 3 tahun dari tahun 1995 hingga 1998 oleh kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Hutama Karya (Persero). Perkantoran ini sudah kosong setidaknya sejak 2009 atau 5 tahun lalu.


Petugas keamanan tersebut mengungkapkan proses pemugaran gedung dilakukan sejak awal tahun 2014. "Sudah mulai dipugar sejak Februari 2014," imbuhnya.


Menurut petugas keamanan itu, pemugaran tidak hanya dilakukan berupa pengecatan ulang tetapi perbaikan struktur gedung secara umum.


"Ada renovasi kerangka gedung di dalam sampai lapangan parkir basement, jadi nggak hanya dicat ulang," katanya.


Menurut pengamatan detikFinance di lokasi, penampakan gedung di bagian depan memang mulai rapi dibandingkan tahun lalu. Tiang besar bangunan yang terletak di bagian depan sebagian telah dicat berwarna putih dan hijau.


Sayangnya petugas tidak memberikan izin untuk melihat lebih dalam proses perbaikan gedung, termasuk melihat kondisi patung-patung yang ada dalam gedung. Namun terlihat beberapa pekerja keluar-masuk sambil melihat struktur bangunan bagian atas gedung.


"Targetnya sampai akhir tahun selesai renovasinya," kata petugas keamanan tersebut.


(wij/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Bursa-bursa di Asia Rontok Terkena Sentimen Argentina dan AS

Jakarta -Bursa-bursa di Asia terpuruk pada perdagangan Jumat (1/8/2014) akibat terkena banyak sentimen global. Misalnya soal kabar Argentina yang gagal bayar utang hingga soal data pengangguran di AS.

Pihak pelaku pasar mengatakan tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan terpuruknya pasar, apalagi ada masalah geopolitik di Gaza termasuk soal konflik di Ukraina.


Seperti dikutip dari AFP, Jumat (1/8/2014) bursa Tokyo turun 0,33%, bursa Hong Kong turun 0,66%, bursa Sydney turun tajam hingga 1,2%, bursa Shanghai turun 0,08%,dan bursa Seoul turun 0,20%.


Wall Street juga mengalami penurunan pada penutupan perdagangan, misalnya indeks Dow Jones turun 1,88% ke 16.563,30. Bahkan indeks S&P 500 turun lebih dalam hingga 2%, dan indeks Nasdaq Composite jatuh 2,09%.


Penyebab kejatuhan ini bermacam-macam, namun faktor utamanya adalah gagalnya Menteri Ekonomi Argentina Axel Kicillof yang gagal mencapai kesepakatan dengan para kreditur atau pemegang surat utang, sehingga membawa Argentina pada kondisi default yang kedua kali selama 13 tahun terakhir.


Pihak departemen tenaga kerja AS melaporkan soal angka pengangguran yang naik 23.000 dari sebelumnya 302.000.


(hen/wij)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Setop Jual BBM Subsidi, Stok Solar di SPBU Cikini Melimpah

Jakarta -Mulai hari ini, penjualan BBM solar bersubsidi khusus di Jakarta Pusat dilarang. Misalnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cikini, Jakarta Pusat telah menerapkan aturan ini.

Pihak pengelola mengakui seluruh kegiatan penjualan solar bersubsidi dihentikan sejak pukul 00.00 dini hari. Saat ini solar subsidi yang masih tersisa dan belum terjual sebanyak 19.000 liter.


"Kita akan berkoordinasi dulu dengan Pertamina Pusat mau diapakan 19 Kl (kiloliter) solar subsidi ini," ungkap Kepala Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cikini 31.103.03 Rahmat Novizar kepada detikFinance, Jumat (1/08/2014).


Menurut Rahmat ada dua opsi yang mungkin bisa dilakukan yaitu menjual solar subsidi dengan harga jual non subsidi atau dibeli secara keseluruhan oleh Pertamina Pusat.


"Opsinya dua itu, tetapi nanti ada arahan dari Pertamina Pusat. Alasannya karena harga jual beda tajam. Yang subsidi hanya Rp 6.500/Liter yang non subsidi Rp 12.800/Liter," imbuhnya.


Sedangkan alat pengisi (nozzle) solar bersubsidi untuk sementara ini tidak difungsikan. Nantinya nozzle solar subsidi yang tidak digunakan ini akan dialihfungsikan menjadi solar non subsidi atau Pertamina Dex.


"Ada 10 nozzle dalam kondisi diam dan tidak difungsikan. Nanti bagaimananya ada arahan dari Pertamina Pusat," cetusnya.


Rata-rata per hari di SPBU Cikini menjual 32.000 liter premium. Untuk penjualan bahan bakar Pertamax dan Pertamax Plus masing-masing hanya 9.000 liter dan 1.000 liter. Sedangkan untuk solar penjualan rata-rata per hari hanya mencapai 3.000-4.000 liter.


(wij/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Sempat Anjlok, Harga Cabai Rawit Mulai Melesat Naik

Jakarta -Harga cabai rawit merah terus mengalami kenaikan sejak H-1 Lebaran. Sebelum Lebaran, pada H-10 harga cabai rawit merah hanya Rp 10.000/Kg di tingkat konsumen.

"Setelah itu harganya naik terus. Bahkan saat perayaan Lebaran harganya naik dari Rp 20.000/kg menjadi Rp 35.000/Kg," ungkap Abidin salah seorang pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur kepada detikFinance, Jumat (1/08/2014).


Menurut Abidin, harga Rp 35.000/Kg merupakan rekor tertinggi harga cabai rawit merah dalam beberapa bulan terakhir. Abidin mencatat harga termurah cabai rawit merah terjadi sebelum bulan Ramadan yaitu Rp 5.000-7.000/Kg. Idealnya harga rata-rata cabai rawit merah ada dikisaran Rp 22.000-25.000/Kg.


"Sekarang tetap di Rp 35.000/Kg," imbuhnya.


Abidin belum mengetahui penyebab tingginya harga cabai menjelang dan sesudah Lebaran. Ia mengungkapkan tidak ada masalah soal pasokan karena ratusan ton cabai masuk setiap hari secara normal ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.


Sementara itu, harga jenis cabai lainnya juga bergerak fluktuatif seperti cabai hijau besar. Sedangkan untuk harganya cabai rawit hijau kecil dan cabai keriting merah besar tidak mengalami kenaikan.


"Cabai keriting merah tetap Rp 10.000/Kg sama dengan rawit hijau kecil standar hanya Rp 13.000/Kg. Cabai hijau sempat naik jadi Rp 17.000/Kg tetapi sekarang sudah Rp 12.000/Kg," jelasnya.


(wij/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Larangan Jual Solar Subsidi di SPBU Jakarta Pusat Berlaku Hari Ini

Jakarta -Aturan larangan penjualan solar bersubsidi khusus di Jakarta Pusat (Jakpus) mulai diberlakukan hari ini. Hal ini sudah sesuai arahan Badan pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dengan berkoordinasi dengan PT Pertamina.

Kepala Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cikini 31.103.03 Rahmat Novizar mengungkapkan aturan ini mulai berlaku pada pukul 00.00 dini hari (1/8/2014)


"Sudah diberlakukan sejak pukul 00.00 tadi malam. Jadi maaf kami tidak lagi menjual solar bersubsidi," kata Rahmat kepada detikFinance, Jumat (1/08/2014).


Menurut penuturan Rahmat, sejak pagi hari tepatnya pukul 07.00 masih ada saja calon pembeli yang ingin membeli solar bersubsidi. Calon pembeli umumnya yang menggunakan kendaraan bermesin diesel.


"Tercatat ada 5 kendaraan yang masuk dan ingin beli solar subsidi. Kami katakan sesuai arahan Pertamina bahwa ini dilarang. Mereka menerima," imbuhnya.


Rahmat menjelaskan di SPBU Cikini sudah terpasang spanduk besar yang berisi arahan 'Sesuai Kebijakan Pemerintah, Mulai Tanggal 1 Agustus 2014 Seluruh SPBU di Jakarta Pusat Tidak Menjual Solar Bersubsidi'. Selain itu, informasi mengenai harga dan jenis solar bersubsidi juga sudah dihapus di papan informasi elektronika SPBU.


"Kita ganti papan elektronika dengan jenis dan harga solar non subsidi. Kita arahkan kepada calon pembeli agar membeli solar bersubsidi di Jakarta Timur atau Jakarta Selatan," jelasnya.


(wij/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Ini Dia Uang Pecahan Rp 100.000 yang Pernah Dicetak di Australia

Jakarta -Bank Indonesia (BI) mengakui pernah mencetak jutaan lembar uang pecahan Rp 100.000 di Australia. Proses cetak uang dilakukan pada periode 1999 di Note Printing Australia (NPA), lembaga di bawah naungan Bank Sentral Australia.

Dikutip dari situs BI, Kamis (31/07/2014), uang dengan nilai pecahan Rp 100.000 tersebut berukuran 151 x 65mm, berbahan dasar plastik (polyster) dan diterbitkan pada tanggal 1 November 1999. Uang ini ditandatangani oleh Gubernur dan Deputi BI saat itu Syahril Sabirin dan Iwan R. Prawiranata, pada waktu itu.


Gambar depan dari uang ini adalah dua orang pahlawan proklamator yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta dengan warna dominan kuning, jingga, cokelat, merah, dan hijau. Sedangkan penampakan dari belakang adalah gambar gedung MPR dan DPR dengan warna dominan kuning, jingga, coklat, merah, dan hijau. Juga ada tanda air berupa shadow image Garuda Pancasila Color Windows bentuk bunga memuat logo BI.


Masa edar uang ini terbilang cukup lama hingga 30 Desember 2013. Masyarakat diminta menukarkan uang tersebut karena sudah tidak berlaku paling lambat 30 Desember 2013.


Namun masyarakat masih dapat menukarkan di Bank Indonesia mulai dari tanggal 31 Desember 2013 sampai dengan 30 Desember 2018 sesuai dengan jadwal operasional penukaran BI.


BI terpaksa mencetak uang di Australia guna menghadapi tahun milenium 2000 atau lebih dikenal dengan singkatan Y2K (Year 2 Kilo)


"Iya, kondisinya spesial. Kondisi spesial menghadapi Y2K itu," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara di kediaman Presiden SBY, hari ini..Next


(wij/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»  

Daya Beli Konsumen Melemah, Penjualan Ritel Saat Lebaran Melambat

Jakarta -Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat penjualan ritel di mal-mal sepanjang musim Lebaran 2014 meningkat sebesar 10% dibandingkan 2013. Namun kenaikan tahun ini masih jauh lebih rendah daripada kenaikan tahun lalu.

"Walaupun terjadi kenaikan, namun lebih kecil dibanding kenaikan penjualan pada masa Lebaran tahun 2013 dibanding tahun 2012, yang sebesar 15%," kata Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Handaka Santosa kepada detikFinance, Rabu (30/7/2014)


Ia mengatakan penyebabnya karena melemahnya daya beli konsumen yang dipicu dari tingginya atau kenaikan bunga pinjaman bank. Handaka menambahkan besarnya kebutuhan konsumen untuk membayar angsuran motor, mobil, rumah, dan apartemen meningkat gara-gara bunga cicilan naik.


"Sebenarnya penghasilan naik, karena adanya kenaikan UMP dan lainnya. Hanya saja kebutuhan pembayaran angsuran naik tajam, sehingga menggerogoti pembelian ke ritel," katanya.


Ia menegaskan daya beli masyarakat tidak sekuat pada periode 2013, saat itu penjualan ritel di mal-mal naik 15%, sedangkan tahun ini hanya naik 10%.


"Jadi sebaiknya pemerintah segera turunkan bunga pinjaman. Kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi jangan sampai konsumsi domestik turun," katanya


Handaka mengatakan kebijakan bunga tinggi adalah untuk menjaga inflasi tetap rendah. Namun jika hasilnya pertumbuhan ekonomi melambat karena melemahnya daya beli, maka ia mendesak pemerintah dan BI perlu segera ambil kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.


Kenaikan bunga KPR setidaknya sudah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Memasuki 2014, perbankan juga terus menaikkan bunga KPR.


Kondisi ini juga dikeluhkan oleh pelaku pengembang properti, seperti Grup Ciputra. Kondisi ini mempengaruhi penjualan properti mereka.


(wij/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!




readmore »»