"Jadi kalau cost-nya lebih kecil keuntungan lebih besar pasti dibangun, kecuali ada alternatif yang lebih. Misalnya untungnya sama-sama besar, ada alternatif cost-nya yang lebih kecil kenapa kita nggak bangun yang lebih kecil," kata Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto (Djokir) usai melakukan rapat internal membahas proyek deep tunnel di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jalan Raden Fatah, Jakarta Selatan, Senin (4/3/2013).
Djokir menerangkan, jika saat ini kerugian yang dialami masyarakat akibat banjir di Jakarta mencapai milyaran rupiah, pembangunan proyek ini pun harus bisa menutupi kerugian yang ditimbulkan tersebut. Ditambah, biaya konstruksi dan operasional proyek tersebut pun harus sepadan dengan penggunannya nanti.
Dikatakan Djoko, biaya untuk membangun ini cukup besar, karena tak hanya dikeluarkan saat proses konstruksi saja, melainkan biaya yang harus dikucurkan untuk biaya operasional yang terhitung tak murah.
"Karena kalau disitu ada listrik-listrik saat-saat banjir kita pakai untuk banjir, kan nanti harus kita perbaiki lagi listriknya, yang mungkin pada rusak korslet dan sebagainya kan harus diganti. Itu harus dimasukan dalam cost operasi, harus dihitung semua. Itu di sisi lain," katanya.
Selain itu, ia menekankan pula efisiensi terhadap pengurangan kemacetan di Jakarta. Rencananya pada musim kemarau, terowongan ini dapat dilalui kendaraan.
"Kalau kita bikin jalan, itu kan buat jalan kemacetannya berapa persen bisa dikurangi, sehingga itu bisa dihitung. Kalau kemacetan dikurangi, itu artinya berapa kerugian masyarakat bisa diatasi. Sehingga total keuntungan nanti dibanding dengan nilai total cost itu masih untung apa tidak," paparnya.
Meski demikian, Djoko mengatakan proyek ini dapat dibangun di Jakarta. Walaupun ada beberapa unsur tanah yang kurang cocok untuk dibangun proyek semacam itu yaitu di wilayah Jakarta Utara.
"Jakarta di bagian utara costnya akan jauh lebih mahal dibanding Jakarta dibagian selatan, tetapi secara teknis itu bisa dilakukan," pungkasnya.
(zul/hen)