"Kita naikkan BBM pada tahun 2013. Ini adalah langkah yang berani dibandingkan negara-negara di ASEAN yang sama tengah dalam gejolak global. Ini harus dilakukan untuk mengatasi defisit fiskal kita," ungkap Hatta pada acara investor summit di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (21/1/2014)
Ia mengatakan dampaknya memang terlihat pada inflasi yang tinggi namun hanya berlangsung jangka pendek namun dalam jangka panjang dapat mengurangi beban anggaran subsidi di APBN. Hatta juga mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menempati peringkat kedua setelah China di negara-negara G20.
"Apa yang sudah dicapai di 2013. Di tengah tekanan yang tidak ringan kita patut bersyukur. Perekonomian kita masih tumbuh dengan baik. Walaupun terkoreksi ke bawah dari APBN kita. Tapi masih kedua tertinggi setelah China," paparnya.
Hatta menambahkan hal itu juga memberikan sinyal positif terhadap pasar dan investor. Meskipun ke depan masih banyak tantangan yang harus dilewati. Cara yang paling tepat adalah menyatukan semua lini untuk mendukung perekonomian.
"Kalau kita bersatu, kita akan keluar sebagai pemenang. Bangsa ini cukup teruji untuk berbagai macam tantangan. Sejarah mencatat kalau menghadapi tantangan, energi sosial keluar menghadapi tantangan itu," ujarnya.
Beberapa poin yang harus direformasi adalah sektor agraria atau pertanahan, industri, energi, birokrasi dan pangan. Kelima hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di masa mendatang.
"Kita harus lakukan reformasi agraria, terutama lahan. Lahan menjadi instrumen keadilan. Reformasi di bidang industri, reformasi bidang energi dan sumber daya alam, reformasi bidang birokrasi yang betul-betul harus kita perbaiki dan reformasi pangan," terangnya.
(mkl/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!