Pengusaha: Maaf Saya Kasar, Infrastruktur RI Terhambat Karena Subsidi BBM

Jakarta -Para pengusaha menilai pembangunan infrastruktur di Indonesia terhambat karena ratusan triliun rupiah anggaran dihamburkan setiap tahunnya. Terutama untuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang pada tahun 2013 mencapai Rp 250 triliun.

"Maaf kalau saya agak sedikit kasar. Tapi pembangunan infrastruktur terhambat karena kita hanya menghamburkan dana untuk subsidi BBM," ungkap Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto pada acara Investor Summit yang diadakan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (21/1/2014).


Suryo menilai, subsidi BBM yang disalurkan selama ini tidak jelas tujuannya. Sebab banyak konsumen BBM bersubsidi adalah masyarakat kalangan menengah ke atas. Ini adalah merupakan sebuah pemborosan.


"Karena nggak jelas. Yang diberikan subsidi itu harusnya tidak mendapat subsidi itu yang pertama. Kedua banyak penyelundupan, pemborosan, dan lainnya," jelasnya.


Pada kesempatan itu, Suryo menuturkan, di Filipina harga BBM Rp 15 ribu/liter. Sementara di Indonesia hanya Rp 6.500/liter. Padahal pendapatan per kapita masyarakat Indonesia lebih tinggi dari Filipina.


"Di Filipina itu Rp 15 ribu per liter. Kita bayar BBM itu separuhnya. Sementara pendapatan per kapita kita lebih tinggi. Nah apakah bisa diukur, pemborosan setiap tahun untuk itu," jelasnya


Menurutnya, dari total anggaran subsidi tersebut lebih baik disalurkan setengahnya untuk daerah. Misalkan sebesar Rp 5 triliun per provinsi. Ini menurut Suryo dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara sisanya bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur.


"Bayangkan Rp 250 triliun. Beri saja Rp 5 triliun ke setiap provinsi. Masih ada lagi sisanya. Itu bisa bangun jalan dan lainnya," cetus Suryo.


(mkl/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!