Tesla menawarkan kenyamanan ala kelas premium. Banderol mobil sedan buatan Tesla dipatok pada angka lebih dari Rp 1 miliar.
Tapi mereka yang menginginkan harga yang lebih murah tak berkecil hati. Pada awal pekan lalu, perusahaan keroyokan antara raksasa otomotif Jerman, Daimler, dan BYD, perusahaan asal China, telah memperkenalkan Denza, banderolnya sekitar setengah model Tesla.
Kendaraan atau mobil listrik seperti Tesla dan Denza sebetulnya bukan pula yang pertama. Sejak 2009 China sudah mencanangkan pengembangan mobil listrik dan menargetkan sebanyak 5 juta mobil listrik lalu-lalang di jalanan China pada 2020. Beberapa perusahaan taksi dan bus sudah mengganti armadanya dengan kendaraan listrik.
Tapi target jauh dari harapan. Pada kuartal pertama 2014 ini saja, kurang dari 7.000 mobil listrik atau hibrid yang terjual di China. Rata-rata, hanya 2.000 unit mobil listrik yang laku di China saban tahun.
Rupanya salah satu kendala orang membeli mobil listrik adalah ketakutan akan kehabisan bahan bakar listrik. “Saya khawatir kehabisan listrik di jalan dan mogok,” kata Zhao Bi, seorang perancang busana di Beijing, kepada CNN, di Beijing, pekan lalu.
Biasanya, pengguna mobil listrik mengisi tenaga baterai mobilnya di rumah. Biasanya juga, mereka hanya memakai mobil untuk pergi ke tempat kerja, pulang-pergi. Di luar itu, mereka tak berani karena infrastruktur pengisian bahan bakar listrik di seluruh China belum memadai.Next
(hds/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!