"Tarif diperkiraan Rp 10.000," kata Dirut PT PP Precast Abdul Haris Tatang di pabrik PT Perkakas Rekadaya Nusantara, di Jalan Cagak, Desa Bunihayu, Subang, Jawa Barat, Selasa (2/4/2014).
Ia mengatakan meski Metro Kapsul termasuk kereta ringan, namun lebih efektif bila dibandingkan dengan monorel dari sisi investasi maupun efektifitas daya angkut. Dengan kapasitas satu gerbong Metro Kapsul 22 kursi, setidaknya bisa mengangkut belasan ribu penumpang per jam untuk setiap 10 gerbong.
"Daya angkut per jam 19.000 (penumpang). Jadi dengan 10 kapsul lebih baik daripada monorel. Memang kita kalah di MRT, tapi itu sudah cukup menyelesaikan masalah (kemacetan). Ini penggeraknya listrik. Dari PLN, hanya 18 KW per kapsul," jelas Tatang.
Tatang juga mengatakan soal mekanisme konstruksi pembangunan Metro Kapsul di Jakarta yang relatif lebih sederhana dan efisien. Ia optimistis dengan pola pengerjaan yang efektif bisa menekan kemacetan, apalagi bisa kerjakan dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi setiap hari saat volume kendaraan mulai berkurang di Jakarta.
"Kita punya sistem khusus tiang pancang, yang sistemnya knock down, tiang khusus yang bisa berlapis sebagai kolom langsung. Satu malam bisa selesai satu tiang sampai atas. Malam berikutnya satu tiang lagi. Warga Jakarta tahu-tahu pagi-pagi sudah ada tiang," katanya.
Selain itu, kelebihan dari Metro Kapsul rutenya relatif fleksibel bisa dibangun di mana saja termasuk di jalur trotoar di jalan-jalan Jakarta. Metro Kapsul dirancang memiliki ketinggian rute layang hingga 3-4 meter.
"Dibangun bisa di atas torotar, bisa di tengah, terserah dimana kami disediakan. Karena dimensinya kecil," katanya.
PT Perkakas Rekadaya Nusantara selaku perusahaan konsorsium penggagas moda transportasi metro kapsul menyatakan serius menawarkan alat transportasi tersebut ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
(hen/dru)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!