Agar potensi ini bisa lebih termanfaatkan, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) bekerja sama dengan PT Timah akan membangun pabrik pengolahan monasit di Pulau Bangka. Diharapkan, tahun depan sudah bisa dipakai untuk memisahkan kandungan-kandungan mineral dalam pasir monasit.
"Pilot plant ini bisa mengolah 50 kg monasit per hari, dengan kandungan 60% elemen tanah jarang," kata Agus Sumaryanto, Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir BATAN, ditemui di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (14/10/2014).
Kebutuhan elemen tanah jarang atau rare earth element (REE) untuk industri baja dan elektronika selama ini diimpor dari berbagai negara, terutama China. Namun belakangan, terjadi kelangkaan pasokan akibat adanya kebijakan perlindungan ekspor di negara tersebut.
Selain mengandung elemen tanah jarang, pasir monasit hasil penambangan timah di Pulau Bangka juga mengandung bahan baku nuklir yakni uranium dan thorium. Namun untuk bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku PLTN, keduanya masih butuh proses yang panjang dan rumit.
"Kalau untuk bahan baku nuklir, saat ini impor masih lebih ekonomis," kata Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto.
Secara umum, potensi mineral radioaktif untuk bahan baku nuklir di seluruh Indonesia mencapai 70 ribu ton uranium dan 125 ribu ton thorium. Beberapa wilayah dengan potensi paling besar antara lain Kalimantan Barat, Bangka, Mamuju dan Papua.
(up/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!