Padahal kalangan dunia usaha atau pengusaha justru tak keberatan, bahkan ada yang mendorong agar BBM dinaikkan hingga Rp 9.500/liter.
"Itu sudah tidak bisa diterima secara nalar. Saya kira sudah politis," kata Wakil Sekjen Apindo Franky Sibarani kepada detikFinance, Kamis (18/4/2013)
Franky menuturkan kenaikan harga BBM untuk mobil pribadi sejatinya tak berpengaruh signifikan terhadap biaya distribusi dunia usaha. Maklum saja, ada beberapa perusahaan yang memang masih memakai plat hitam untuk mobil operasionalnya.
"Kalau cost pengusaha dengan BBM mobil pribadi naik, tidak berpengaruh,pengaruhnya pada biaya distribusi. Dan sangat kecil terhadap komponen harga produk. Industri sudah membayar BBM dengan harga internasional," katanya.
Ia menuturkan saat ini para serikat pekerja jumlahnya ribuan, dengan berbagai kepentingan. Bagi Franky, kenyataanya di lapangan ada serikat pekerja yang murni membela kepentingan pekerja ada juga yang berbasis aktivis.
"Kalau yang aktivis tentu tujuannya beda. Demo adalah sarana tetap eksis. Poinnya jelas, semua tidak setuju dan demo adalah caranya. Di tahun politik ini, sampai tahun depan pasti akan banyak aksi unjuk rasa di berbagai daerah," katanya.
(hen/dnl)
