Total kebutuhan investasi pengembangan jaringan kereta Jabodetabek mencapai Rp 582,05 triliun. Investasi tersebut dibiayai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), skema Kerja Sama Pemerintah Swasta (KPS), dan swasta murni.
Pada era Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, pemerintah menekankan pentingnya pembangunan jaringan kereta baru dan reaktifasi jaringan kereta untuk angkutan perkotaan dan luar pulau Jawa.
"Rencana pengembangunan masih mengacu pada Peraturan Menteri (PM) No 54/2013," kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub Hanggoro Budi Wiryawan kepada detikFinance, Rabu (11/3/2015).
Dalam rencana pengembangan jaringan kereta Jabodetabek hingga 2030, Kemenhub belum menerima usulan Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) dalam hal pembangunan Light Rail Transit (LRT) sebagai pengganti monorel. Artinya, pengembangan jaringan kereta Jabodetabek masih mengikuti rancangan 2013.
"Kita hanya mendengar (LRT) dari media. Kita belum terima usulan dari DKI Jakarta, jadi kita masih berpatokan kepada PM 54," ujar Hanggoro.
Dalam program pembangunan jalur kereta tersebut, Hanggoro menyebut ada beberapa proyek yang sedang berjalan. Seperti MRT rute North-South fase I (rute Lebak Bulus-Bundaran HI), jaringan kereta Bandara Soekarno-Hatta tipe Commuter Line, pengembangan double-double track, elektrifikasi, dan peninggian lintas Bekasi. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) juga sedang mempersiapkan pengembangan moda monorel Cibubur-Cawang.Next
(feb/hds)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com