Wah, ternyata Pak Suhendra sedang bingung yah mau ngapain di pasar saham. Kalau saham sedang naik tidak berani masuk karena takut ketinggian, tunggu koreksi dulu katanya. Eh, pas pasar koreksi kembali tidak berani masuk karena takutnya pasar turun lebih dalam. Lalu pasar rebound dan kita masih belum berani masuk, takutnya ini cuma jebakan Batman.
Lalu kapan investasi di sahamnya dong ya?
Mungkin sebelum bertindak Pak Suhendra harus menentukan dulu apakah Bapak seorang INVESTOR atau TRADER. Jika Bapak seorang investor kisi kisi nya gampang aja, ikuti resep Opa Warren Buffett … BELI MURAH JUAL MAHAL.
Ngomong memang mudah, tapi gimana caranya? Saran saya simple, investasi di saham sebenarnya sama dengan investasi di sector riil. Pertama tama yang harus dilakukan adalah mencari perusahaan yang sedang bertumbuh. Setelah ketemu, baru lihat harganya sudah mahal atau belum.
Indikasi perusahaan bertumbuh saya biasa melihat minimal Pendapatan dan Laba Bersih setahun ke depan tumbuh 15%. Setelah ketemu, tinggal lihat perusahaan ini masih murah atau sudah mahal. Cara paling simple adalah membandingkan PER (Price to Earnings Ratio) dalam 5 tahun terakhir.
Saya ambil contoh dua perusahaan, yaitu ASII. Untuk data saya ambil dari website Reuters.Next
(ang/ang)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!