Bahkan puncaknya, pengusaha memerlukan waktu tunggu dan bongkar muat (dwelling time) hingga 9 hari di Pelabuhan Tanjung Priok.
Managing Directur PT Cikarang Inland Port Benny Woenardi mengungkapkan, kejadian di Tanjung Priok saat ini persis sama dengan kejadian di Thailand 11 tahun silam.
"Kasus yang sama terjadi di Thailand 11 tahun yang lalu. Dulu kota Bangkok terdapat sebuah pelabuhan yang dihubungkan melalui sungai. Karena letaknya di pusat kota alhasil timbul kemacetan di Thailand. Kenapa karena begitu ada pelabuhan di dalam kota pasti dampak yaitu jalan publik juga digunakan. Kemudian pemerintah Thailand mengambil keputusan memindahkan pelabuhan ke daerah selatan yaitu Lang Cham," ungkap Benny saat berdiskusi dengan media di Menara Batavia, Jakarta, Rabu (10/7/2013).
Ia juga mengungkapkan, kondisi Tanjung Priok yang saat ini terus menurun diakibatkan keterbatasan lahan. Padahal 60% lebih arus barang di Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
"Jadi 30 sampai 40 tahun lalu Tanjung Priok memang masih sepi. Priok itu warisan Pemerintah Belanda, dan Belanda sudah desain Tanjung Priok sampai ke Cempaka Putih dan Sunter. Sekarang lahan Priok semakin mengecil. Padahal 65% arus barang dan pergerakan manusia melalui pelabuhan ini," katanya.
Ditambah lagi, Pelabuhan Tanjung Priok saat ini sudah tidak steril. Pasalnya Pelabuhan Tanjung Priok sudah bersentuhan dengan pemukiman penduduk yang letaknya sangat berdekatan.
"Pelabuhan modern itu steril dan jauh dari aktifitas penduduk. Priok kini sudah bersentuhan dengan masyarakat. Priok sudah menyentuh puncaknya karena daya tampung yang terbatas. Kalau kapasitas penuh, proses masuknya kapal bisa terhambat. Kemudian ada cost tambahan yang harus dibayarkan pengusaha. Cost kita yang paling tinggi se-Asia Pasific. Investor tentu akan menghitung apalagi ketidakjelasan tinggi. Sehingga ini akan mengurangi investasi," jelasnya.
(wij/dnl)