Selain Eksportir, RI untuk Pertama Kali Jadi Importir Gas Bumi di 2019

Jakarta -Hingga kini Indonesia menjadi eksportir gas bumi karena punya cadangan besar. Namun status sebagai eksportir gas bumi akan bertambah menjadi status importir pada 2019.

"Kebutuhan gas bumi dalam negeri makin hari makin banyak. Saat ini produksinya sangat banyak dan berlebih. Tapi, untuk 2019-2020 kita sudah impor, tapi saya lupa angka kebutuhan gas kita 2019 nanti dan jumlah impornya," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, IGN Wiratmaja Puja, Rabu (18/3/2015).


Wiratmaja mengungkapkan, kebutuhan gas bumi paling besar salah satunya dari PT PLN (Persero) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).


"Yang paling naik signifikan kebutuhan gas buminya itu PLN. PLN nambah kebutuhan gasnya pada 2019 mencapai 1.100 mmscfd (juta kaki kubik per hari)," ujar Wiratmaja.


Namun, walau pada 2019 Indonesia harus impor gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tapi Indonesia juga tetap harus mengekspor sekitar 40% dari produksi.


"Tapi kita masih harus ekspor 40% produksi gas bumi nasional. Ini karena kontrak gas jangka panjang, yang gitu tidak bisa kita ganggu," ungkapnya.


Salah satu kontrak gas yang tidak bisa diganggu adalah kontrak jangka panjang penjualan gas ke Fujian China. Tapi kata Wiratmaja, saat ini Indonesia untung ekspor gas ke Fujian, karena harga gas internasional masih rendah.


"Harga LNG (gas alam cair) internasional sekarang turun, harga gas kita ke Fujian kan US$ 8 per mmbtu, sedangkan harga internasional saat ini di bawah US$ 8 dolar," tutupnya.


PT Pertamina (Persero) sendiri pada 2025 nanti diperkiraan permintaan kebutuhan gas Indonesia dapat mencapai hingga 9.040 mmscfd. Bahkan Pertamina sudah mulai impor gas alam pada 2019 mendatang dari beberapa negara, salah satunya dari Amerika Serikat.


(rrd/hen)

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com