Bos Cikarang Dry Port: Bongkar Muat di Pelabuhan Kami Lebih Cepat Dibanding Priok

Jakarta - Cikarang Dry Port (CDP) bisa menjadi solusi pengusaha untuk melakukan kegiatan bongkar muat barang sampai barang tersebut keluar atau dikenal dwelling time. Selama ini dwelling time difokuskan hanya di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Kita nyemplung bisnis ini karena Indonesia butuh Dry Port. Di Indonesia Dry Port sebelumnya belum ada. Bisa dikatakan jauh lebih singkat dwelling time di CDP dari beberapa pengakuan klien kita," ujar Managing Director PT Cikarang Inland Port Benny Woenardi saat berdiskusi dengan media di Menara Batavia, Jakarta, Rabu (10/7/2013).


Ia mencontohkan, salah satu klien bisnisnya mengakui dwelling time di CDP jauh lebih singkat bila dibandingkan Pelabuhan Tanjung Priok.


"Cost berkurang dengan selisih 30%. Sementara dari waktu berkurang 50%. Contohnya dari Cakung ke Priok itu jaraknya 15 km sedangkan Cakung ke Cikarang 60 km. Ada kasus, konsumen itu impor produk dari proses turunnya kapal ke customs clearence hingga sampai ke gudang butuh waktu 7 hari di Pelabuhan Tanjung Priok. Lalu Mereka kemudian menggunakan CDP sampai ke Priok kita tarik ke CDP kemudian proses customs clearence dan balik ke gudang hanya butuh waktu 3 hari," jelasnya.


Benny pun mengungkapkan resepnya. Salah satunya adalah, CDP menyediakan jasa kepelabuhan (seperti Kepabeanan, Karantina, BPPOM) selama 24 jam. Selain itu dengan total lahan 200 hektar bisa menampung 400.000 TEUs kontainer setiap tahunnya.


"Lama dwelling time karena penumpukan box (kontainer). Pre Clearance itu menyumbang. 58% dari dwelling time jadi agar tidak terhambat kita siapkan tempat yang besar. Kita juga terhubung dengan Kepabeanan, Karantina, dan BPPOM," cetusnya.


(wij/dnl)