Seperti diungkapkan Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki, PLN mendapatkan gas dari swap gajah baru sebesar 5 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Namun alokasi hanya 5 mmscfd tersebut tidak akan menghemat penggunaan BBM di PLTGU Muara Tawar.
"PLTGU Muara Karang masih kekurangan gas 70 mmscfd, namun karena kita gas masih kurang, berarti ini tidak menggantikan BBM, tambahan pasokan gas ini hanya menambah daya yang dihasilkan sebesar 20 megawatt (MW)," ujar Suryadi pada pesan tertulisnya, Senin (8/7/2013).
Menurut Suryadi, pasokan gas dari swap Gajah Baru tersebut tidak lagi diprioritaskan ke PLTGU Muara Tawar, melainkan untuk PLTGU Tanjung Uncang milik PLN dan PLTGU milik PT Universal Batam Energi begitu proyek PLTGU tersebut rampung Juli 2014.
"Bila Batam sudah menyerap maka prioritasnya ke Batam, Sisanya baru diberikan ke PGN, Banten, dan PLN secara proporsional," ungkapnya.
Secara terpisah, Kepala Divisi Pemanfaatan Gas SKK Migas Popo Ahmad Nafis mengungkapkan, pertukaran gas ini akan mengalir pada September 2013.
Swap ini melibatkan PLN, PGN, Gas Suplly Pte Ltd, dan Sembcorp Industries Ltd sebagai pembeli serta Premiere Oil dan ConocoPhilips sebagai penjual. Banyaknya pihak yang terlibat membuat jumlas kontrak yang harus diselesaikan mencapai 8 kontrak.
"Target kami kontrak bisa segera selesai dan gas mulai mengalir pada September nanti," ucap Popi.
Katanya perubahan kontrak harus dilakukan karena adanya perubahan pembeli gas hasil swap tersebut. Awalnya, gas sebanyak 40 mmscfd itu seluruhnya masuk ke PLTGU Muara Tawar, namun tiba-tiba kemudian diubah menjadi PGN 25 mmscfd, BUMN Banten 10 mmscfd dan PLN hanya 5 mmscfd.
Padahal jauh sebelumnya PLN ketika mendapatkan alokasi 40 mmscfd optimistis dapat menghemat hingga US$ 620.000 per hari. Namun karena kontrak diubah dan PLN hanya dapat 5 mmscfd, penghematan tersebut tidak ada.
(rrd/dnl)