Menkeu Anggap Dolar Tembus Rp 10.000 Itu Biasa, Bagaimana Kata Agus Marto?

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan pelemahan nilai tukar saat ini memang terjadi di mata uang negara berkembang. Sama halnya dengan rupiah yang telah kembali menyentuh level Rp 10.000 per dolar AS.

"Memang harus dibiarkan itu (pelemahan dolar ke Rp 10.000/US$). Ada satu ruang kita akan jaga bahwa nilai tukar rupiah akan stabil mencerminkan fundamentalnya. Kita kalau dibandingkan dengan negara kawasan dan negara emerging market itu kita kurang lebih selaras," kata Agus ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/7/2013).


Dijelaskan Agus, kenaikan harga BBM subsidi memang sedikit membawa dampak positif bagi rupiah. "Sekarang ada positif situasi dari BBM naik. Itu baik. Bawa kita melihat impor BBM itu ada penurunan itu kita sambut baik," jelas Agus.


Jadi apakah dolar AS yang tembus ke Rp 10.000 itu baik? "Itu tergantung investor," ungkap Agus.


Jika melihat nilai tukar di kawasan negara berkembang atau regional ASEAN, Agus menjelaskan pelemahan rupiah tidak berbeda dengan ringgit Malaysia maupun bath Thailand.


"Ini yang kita mau bandingkan secara kawasan, kalau kita tidak berbeda dengan kawasan. Bahkan kawasan kita sepeeti Malaysia, Filipina, dan Thailand itu kurang lebih sama. Kalau dibandingkan Korea itu jauh lebih tajam mereka turunnya. Nah untuk Indonesia itu bisa menciptakan confident pasar jadi itu yang mesti jaga," papar Agus.


Pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berlangsung. Pagi tadi, dolar AS kembali menembus posisi tertinggi di Rp 10.000.


Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku tidak ada permasalahan atas kondisi tersebut. Menurutnya itu kewajaran, karena mata uang di dunia memiliki permasalahan yang sama.


"Enggak apa-apa, memang kenapa? Semua mata uang global melemah. Yang jadi masalah apa?" ujar Chatib.


(dru/dnl)