"Menjelang lebaran biasanya traffic-nya tinggi sekali karena pabrik mulai tutup karyawan cuti sehingga tidak beroperasi. Cara yang kami lakukan adalah jelas antisipasi sebelum dan sesudah Idul Fitri adalah dengan mengoperasikan terminal line 2 untuk menopang terminal line 1 di Pelabuhan Tanjung Priok," tutur Kepala Humas Pelindo II Sofyan Gumelar saat dihubungi detikFinance, Selasa (9/7/2013).
Ia mengakui, pekan lalu dwelling time mencapai rekor baru yaitu lebih dari 9 jam. Padahal efisiensi dwelling time tidak lebih dari 5 jam. "Minggu kemarin itu 9 jam bahkan lebih," katanya.
Namun menurutnya, Pelabuhan Tanjung Priok saat ini masih mampu menampung jumlah arus kontainer yang masuk.
"Tidak juga kita masih mampu, proses operasional tetap berjalan. Kita akan lebih tingkatkan dengan memanfaatkan beberapa lahan yang tersedia sehingga arus barang kembali lancar," ujar Sofyan.
Sebelumnya, Ketua ALFI (Asosiasi Logistik & Forwader Indonesia) Iskandar Zulkarnain mengatakan, proses pengeluaran barang dan bongkar muat (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok membutuhkan waktu hingga 9 hari. Waktu ini jauh lebih lama dibandingkan Singapura yang hanya membutuhkan waktu 1 hari.
"Masalah ini sudah banyak yang bahas dan Wamenkeu disuruh stand by di Priok," katanya.
Ia memberikan masukan agar Pelindo II sebagai operator menambah kepastian Tempat Penampungan Sementara (TPS). Selain itu operasional jasa kepelabuhan agar berfungsi 24 jam seperti Singapura.
"Kita berikan saran untuk 24 jam kerja termasuk kerja Bea Cukai, Bank, Perusahaan Pelayaran. Selain itu menambah kapasitas TPS (Tempat Penimbunan Sementara) dan bongkar muat untuk mengatasi masalah ini," cetusnya.
(wij/dnl)