Karena itu, saat ini Chatib fokus agar layanan bongkar muat barang (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara bisa dibenahi dari saat ini yang memakan waktu 9 hari.
"Bea cukai ada koordinasi, waktu saya 1 tahun, saya nggak bisa bikin reform semua, jadi saya fokus Tanjung Priok dulu, saya minta wamenkeu untuk berkantor di sana, percepatan anggaran juga penting cara duduk bersama dengan bikin sistem, pajak nggak usah semua, cari yang besar," tutur Chatib saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/7/2013).
Semalam, Chatib melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Tanjung Priok untuk mengecek pelayanan kantor Bea Cukai Tanjung Priok. Chatib meminta pelayanan Bea Cukai Tanjung Priok dibuka hingga pukul 23.00 WIB. Biasanya, pelayanan pemeriksaan bongkar muat di Bea Cukai dibuka paling lama hingga pukul 19.00 WIB pada hari kerja.
"Saya sudah minta bea cukai sampai 11 malam, saya bilang penyesuaian koordinasi dengan semua pihak, untuk berkantor di sana, target bea cukai ditambah, paling nggak selesai PR," tegas Chatib.
Selama ini, layanan di Bea Cukai berperan dalam lamanya proses waktu bongkar muat kontainer. Di samping membuka pelayanan Bea Cukai hingga larut malam, Chatib mengaku akan ada perbaikan menggunakan sistem teknologi untuk mengurai waktu pemeriksaan barang.
"Manajemen risiko dan pengawasan harus diperbaiki nggak bisa 25% jalur merah semua barang stock di situ, bagaimana caranya nggak terlalu numpuk, jalur merah (barang berbahaya) bisa diperkecil misalkan gunakan IT," kata Chatib.
Diakuinya, salah satu prioritasnya selama menjabat menjadi menkeu adalah pembenahan waktu tunggu bongkar muat. Ia pun menempatkan Wamenkeu Mahendra Siregar untuk memantau transformasi Bea Cukai di di Pelabuhan Tanjung Priok.
(feb/dnl)