Waktu Tunggu Bongkar Muat di Priok Kelamaan, Ini Penjelasan Pelindo

Jakarta - Para pengusaha bongkar muat kemarin (8/7/2013) protes kepada PT Pelindo II (persero) akibat lamanya waktu tunggu hingga bongkar muat (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Lalu apa tanggapan Pelindo?

Kepala Humas PT Pelindo II (persero) Sofyan Gumelar mengatakan tingginya dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok disebabkan banyaknya kontainer yang masuk jalur merah di otoritas kepabeanan.


"Dwelling time di Priok masih tinggi dan masih terjadi. Ini disebabkan banyaknya barang-barang yang kena jalur merah di Bea Cukai," ungkap Agung saat dihubungi detikFinance, Selasa (9/7/2013).


Menurutnya penetapan jalur merah terjadi atas resiko importir dan/atau resiko komoditi yang diimpor. Suatu dokumen PIB (Pemberitahuan Import Barang) akan terkena penetapan jalur merah jika profil importir berisiko tinggi. Demikian juga suatu PIB akan ditetapkan jalur merah jika importir mengimpor komoditi berisiko tinggi.


Pihak importir harus menjaga agar dokumen pemberitahuan pabean yang disampaikan kepada pihak pabean sesuai dengan ketentuan perundang-undangan pabean dan perundang-undangan terkait lainnya. Tingkat pelanggaran rendah menjadikan risiko importir menjadi lebih rendah. Tingkat risiko importir rendah mengakibatkan berkurangnya penetapan jalur merah.


Setelah proses selesai maka barang akan diberikan Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) yang dikeluarkan oleh Bea Cukai.


"Kalau Pelindo, setelah SPPB itu diterbitkan oleh Bea Cukai maka barang diperbolehkan keluar. Kita kan operator dan kita maunya kosong," katanya.


Selain banyaknya kontainer yang masuk jalur merah, penyebab dwelling time tinggi di Priok disebabkan faktor kesengajaan pengusaha. Pengusaha sengaja menumpukan kontainer mereka di Pelabuhan Tanjung Priok karena alasan teknis.


"Banyak importir yang menumpukan kontainer di Pelabuhan. Padahal kita sudah kenakan tarif progresif 200% dari tarif normal per hari. Mereka menumpukan kontainernya mungkin saja karena kapasitas gudang mereka tidak mendukung," jelas Sofyan.


(wij/dru)