"Ini suatu peluang bagi LEN untuk benahi persinyalan Jabodetabek," ucap Direktur Utama LEN Abraham Mose kepada detikFinance, Selasa (9/7/2013).
Untuk menganti persinyalan kereta yang telah berusia rata-rata 25 tahun ini, LEN menawarkan 2 opsi. Opsi pertama berupa solusi crash program untuk mengganti peralatan persinyalan yang mendesak. Program ini membutuhkan waktu 6 sampai 10 bulan.
Opsi kedua adalah meremajakan semua persinyalan kereta di area Jabodetabek. Untuk program ini, diperlukan anggaran mencapai Rp 500 miliar dan membutuhkan waktu perbaikan mencapai 3 tahun.
"Kita mampu untuk melakukan pengkondisian Jabodetabek, tapi itu perlu persetujuan KAI dan Kemenhub (Dirjen Perkeretaapian). Kita siap pembenahan dan pengkodisian sistem (kereta) Jabodetabek," tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Abraham mengklarifikasi pernyataan Dahlan yang mengatakan LEN bertanggungjawab pada persinyalan kereta di Jabodetabek. Menurutnya, LEN saat ini fokus menggarap proyek persinyalan double track di luar Jabodetabek.
"Bahwa, pada saat itu nggak ada pekerjaan di Jabodetabek terkait sinyal. Kita konsentrasi persinyalan MP3EI, double track, Cirebon-surabaya. Cirebon-semarang akan segera bisa digunakan," terangnya.
(feb/dru)