Untuk tahapan pertama, BRI akan merekrut 20 ribu agen tahun ini. Sisanya akan dilanjutkan pada tahun depan.
"Jadi harapannya agar kami bisa menjangkau daerah remote untuk pembiayaan mikro," kata Plt Direktur Utama BRI Asmawi, dalam forum microfinance di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (11/3/2015)
Agen ini merupakan perorangan atau badan usaha, yang nantinya berada di sekitar pemukiman warga. Mereka akan membantu warga dalam pelayanan akses keuangan, seperti tabungan hingga pemberian kredit.
Tentunya, kata Asmawi, berbeda dengan kondisi sekarang. Di mana aktivitas lebih terpusat di perkantoran. "Kalau 35 ribu, jadi tiap dua desa ada 1 agen. Itu akan bisa bantu warga untuk didekatkan dan terlibat dalam akses keuangan. Hari ini BRI sudah memiliki 5.200, dan seluruh jaringan BRI 10 ribuan," terangnya.
Layanan bank nirkantor dapat mendukung pembiayaan mikro yang berkelanjutan. Sehingga tak tergantung pada subsidi dan donor yang sewaktu-waktu bisa dihentikan. Ia mengatakan, efisiensi program pembiayaan mikro harus dapat memberikan imbas bukan hanya secara finansial, tetapi juga sosial.
Di tempayt yang sama, Destry Damayanti, Staf Ahli Menteri BUMN menilai, sektor UMKM masih menyimpan potensi yang besar untuk dikembangkan. Terlihat mulai banyaknya bank swasta yang masuk dalam pembiayaan usaha mikro.
Sektor usaha mikro menjadi salah satu komponen pendorong ekonomi di Indonesia. Saat ini konstribusinya bahkan sudah mencapai 60%, melebihi andil dari perusahaan kelas kakap yang hanya sebesar 40%.
"Ini menunjukkan betapa besar potensi perbankan untuk mendorong ekonomi kita melalui mikro. Bank swasta sekarang sudah masuk ke mikro karena ladang ini sangat potential sekali. Jadi jangan main-main dengan UMKM," ungkapnya.
(mkl/dnl)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com