Menteri ESDM Sudirman Said mencontohkan soal listrik. Kebutuhan listrik di Indonesia masih kurang, dan Indonesia terancam krisis listrik karena pertumbuhan pasokan tidak mencukupi.
Sudah lama, pro dan kontra soal pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bergulir di Indonesia. Sudirman mengatakan, nuklir merupakan satu-satunya cara cepat untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar.
"Walaupun selalu menjadi kontroversi, soal nuklir ditaruh saja dalam meja, karena itu adalah jalan untuk mempercepat kecukupan dari tenaga listrik ke depan. Tentu saja ada perbedaan pandangan, tapi biarkan untuk ada diskusi yang sehat antara kita. Biasakan itu," jelas Sudirman dalam pertemuan Dewan Energi Nasional (DEN) di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (12/3/2015).
Dalam acara tersebut, Sudirman mengungkapkan soal pengelolaan energi di Indonesia yang harus diperbaiki. Saat energi fosil di dalam negeri menipis, Indonesia terlambat untuk mengembangkan energi baru alternatif.
"Secara fiskal 10 tahun terakhir, APBN kita keluarkan Rp 1.600 triliun untuk energi fosil. Ketika resources turun cepat dan belum ada energi baru, APBN kita tak cukup serius alokasikan jumlah yang cukup baik untuk energi baru. Jadi bagaimana mendukung kebijakan energi dan aspek fiskal nasional," ujar Sudirman.
Belum lagi, infrastruktur migas di Indonesia belum bagus, terutama infrastruktur di sisi hilir. Puluhan tahun, Indonesia tidak membangun infrastruktur migas yang memadai, bahkan ketika masih surplus produksi minyak.Next
(dnl/hen)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com