Ini Komentar Bos OJK Soal Rendahnya Penyerapan Anggaran

Jakarta - Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengakui penyerapan anggaran OJK memang rendah. Ia berjanji akan mengoptimalkan penyerapan anggaran pada semester II-2013 ini.

Muliaman menegaskan, semester pertama memang fokus untuk pengembangan organisasi dan infrastrukturnya.


"Realisasi anggaran OJK sampai dengan Juni 2013 relatif masih rendah, yaitu sekitar Rp 200 miliar atau 12,17 persen dari pagu anggaran sekitar Rp 1,6 triliun," kata Muliaman di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/7/2013).


Sedangkan prognosa sampai dengan 31 Desember 2013 diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,3 triliun atau 78,75 persen, sehingga saldo pada akhir tahun diperkirakan sekitar Rp 349 miliar atau 21,25 persen.


Muliaman menjelaskan, sebagai organisasi yang baru dan masih dalam tahap transisi, sampai dengan semester I Tahun 2013 OJK masih fokus mempersiapkan pengembangan organisasi beserta infrastrukturnya seperti penyusunan dan penyempurnaan regulasi/pengaturan internal.


Hal itu juga menyangkut antara lain penyusunan sistem dan prosedur pelaksanaan tugas di semua sektor termasuk yang terkait dengan pengaturan kepegawaian, sistem keuangan internal, pengadaan barang dan jasa, tata kelola OJK, serta standar dan pedoman audit internal, manajemen risiko, dan pengendalian kualitas.


OJK juga perlu menyiapkan sumber daya manusia, pemenuhan sarana dan prasarana pendukung, serta persiapan pengalihan fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan sektor perbankan dari Bank Indonesia (BI) ke OJK pada tanggal 31 Desember 2013.


Muliaman menjelaskan beberapa realisasi anggaran yang masih rendah seperti anggaran kegiatan operasional yang baru 10,23% dari pagu Rp 165 miliar.


Hal ini terutama disebabkan masih rendahnya realisasi anggaran di bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen yaitu sekitar Rp 3,1 milliar atau 4,77% dari pagu sekitar Rp 65,3 miliar. "Masih rendahnya realisasi di bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen karena terdapat beberapa kegiatan yang sedang dilaksanakan pada akhir Semester I, namun pembebanan biayanya baru dilakukan pada awal Semester II," katanya.


Sementara realisasi anggaran Kegiatan Pengadaan Aset sekitar Rp35 milliar atau 15,96% dari pagu sekitar Rp. 219,5 milliar. Hal ini disebabkan proses pengadaan masih dalam tahap pelelangan atau pelaksanaan pekerjaan, dan realisasi pembayarannya akan jatuh tempo pada triwulan III dan IV Tahun 2013.


Sedangkan realisasi anggaran Kegiatan Administratif sampai dengan Semester I Tahun 2013 mencapai sekitar Rp 137 milliar atau 11,59% dari pagu sekitar Rp 1,2 trilliun. Hal ini terutama disebabkan semula remunerasi dianggarkan untuk 1.267 orang dengan pembayaran sepenuhnya dari anggaran OJK.


Hingga saat ini pegawai OJK hanya berjumlah 872 orang, terdiri dari 794 orang dipekerjakan dari Kementerian Keuangan dan 78 orang ditugaskan dari Bank Indonesia. Pegawai yang ditugaskan dari Bank Indonesia tetap digaji oleh Bank Indonesia dan OJK hanya membayar sebesar penyetaraan gaji dengan jabatan di OJK sesuai standar OJK.


(dru/dnl)